Rubrik Amki – AMKI https://amki.ac.id Asosiasi Masjid Kampus Indonesia Sun, 19 Feb 2023 03:58:05 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.6.17 https://amki.ac.id/wp-content/uploads/2018/03/cropped-1x1transparent-photo_2018-03-29_09-40-55-trcopy-32x32.png Rubrik Amki – AMKI https://amki.ac.id 32 32 IMAN , HIJRAH dan JIHAD https://amki.ac.id/iman-hijrah-dan-jihad/ Thu, 16 Feb 2023 03:54:00 +0000 https://amki.ac.id/?p=993
  • IMAN , HIJRAH dan JIHAD.
  • Dalam setiap sesi Closing Statement di dalam forum training , kajian , diskusi dan curah pendapat , saya pribadi acapkali menyatakan motto :

    ” Hidup kita ini , tak lain adalah : Iman , Hijrah dan Jihad “.

    Ini saya simpulkan sejak saya memperoleh hidayah taufik , lalu beriman dan berhijrah dari kegiatan sekular menuju kegiatan keislaman , 43 tahun lalu. Saat saya mengikuti LMD angkatan ke 40 , bulan Oktober 1979.
    ( Setelah itu , guru kami , guru kita — allahyarham bang ‘Imaduddin ‘Abdulrahim — dipersonanongrata alias diusir oleh regim Orde Baru , dan studi lanjut S3 ke USA.

    Iman , Hijrah dan Jihad , hemat saya memang diajarkan oleh surat Al Baqarah ayat 218 dan surat At Tawbah ayat 20.

    Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah , di dalam kitab ZAADUL MA’AD , menyimpulkan bahwa 3 perkara ini adalah suatu runtutan sistemik :
    Tidak mungkin bisa berjihad , kecuali sudah mampu berhijrah.
    Begitu pula , tidak mungkin berhijrah kecuali sudah teguh beriman.

    Saya sangat sependapat dengan simpulan Imam Ibnul Qayyim tersebut.

    • ( 1 ) IMAN kepada Allah SWT.

    Di dalam tafsir Al Maraghi , imam Ahmad Musthafa Al Maraghi , menyimpulkan bahwa keniscayaan Iman kepada Allah SWT , adalah : membenarkan ( dalam makna meyakini Kebenaran ) semua yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad S’AW. Berarti , tidak saja Al Qur’an yang pasti benar , namun juga seluruh Sunnah Rasul pasti benar.
    Jadi , konsekuensi pengakuan ber-Iman , adalah menjadikan seluruh Al Qur’an dan seluruh Sunnah Rasul , mutlak sebagai Pedoman dan Petunjuk Hidup selama-lamanya.

    • ( 2 ) HIJRAH.
      Hijrah biasa dibedakan menjadi 2 jenis :
    • Hijrah Makani :
      Berhijrah dari wilayah kufur menuju wilayah Islam . Ini bergantung kepada situasi dan kondisi yang beraneka ragam . Hukum nya pun bisa bervariasi sesuai tuntutan sikon tadi. Bisa fardhu ‘ain bagi seseorang atau sebuah komunitas , nsmun sekedar mubah bagi yang selainnya.
    • Berbeda hal nya yang ke 2 , yakni Hijrah al Quluub wa al Jawarih , hijrahnya qalbu dan anggota badan kita . Ini disimpulkan Fardhu ‘Ain bagi setiap individu muslim , sepanjang zaman , kapan pun dan di mana pun.
      Dalam makna memperbaiki qalbu ( pusat kesadaran ) kita setiap saat. Memperbaharui tingkat keimanan kita setiap waktu. Tak ubahnya dengan prinsip manajemen Jepang : Kaizen. Atau prinsip manajemen modern :
      Continous Improvement.
      Jadi setiap detik , kita senantiasa muhasabah dan mengoreksi diri.
      Secara kontinu berkesinambungan , terus menerus.
      In sya’ Allah.
    • ( 3 ) BERJIHAD di Jalan Allah.

    Imam Ibnu Qayyim di dalam kitab Zaadul Ma’ad , merinci jenis jihad ini menjadi 13 macam Jihad di Jalan Allah .
    Rinciannya :

    • Jihad melawan Hawa Nafsu , terdiri atas 4 tingkatan :
    1. Berjihad dgn belajar diinul Islam secara sungguh-sungguh.
    2. Berjihad dengan mengamalkan ilmu diinul Islam secara istiqamah.
    3. Berjihad dengan mendakwahkan dan mengajak orang-orang lain secara sistemik terorganisir.
    4. Berjihad dengan bersabar menghadapi tantangan dan kesulitan apapun.
    • Berjihad melawan Syaithan , terdiri atas 2 jenis , dengan rincian :
    1. Berjihad melawan Syaithan , dengan menolak syubhat dan was-was , baik dalam hal ‘ibadah maupun dalam muamalah.
    2. Berjihad melawan Syaithan , dengan menolak egosentrisme dan hawa nafsu syahwat.
    • Berjihad melawan kaum kuffar dan kaum munafiq , yang terdiri dari 4 jenis :
    1. Berjihad dengan qalbu.
    2. Berjihad dengan lisan , ucapan dan tulisan.
    3. Berjihad dengan harta dan aset kita.
    4. Berjihad dengan diri kita , tenaga , keringat , kalau perlu dengan nyawa kita di dalam sebuah peperangan ( al Qital ) melawan kaum kuffar harby yang memerangi kaum muslimin.
    • Terakhir , berjihad melawan kaum zhalim, pelaku bid’ah dan kemunkaran , yang terdiri dari 3 jenis :
    1. Berjihad dengan tangan , kewenangan dan kekuasaan , jika memungkinkan.
    2. Jika tidak mampu , berjihadlah dengan lisan dan pena. Saat ini , melalui medsos , dengan dakwah digital.
    3. Jika tidak mampu juga , maka wajib berjihad dengan qalbu dan ruang kesadaran kita , tidak setuju terhadap setiap kemungkaran dan kemaksiatan secara konsisten.
      Ini adalah jihad minimalis , tingkat keimanan yang paling rendah.
    • Semoga kita sanggup mengamalkan 3 perkara maha penting ini : Beriman , Berhijrah dan Berjihad.
      Aamiin ya Allah.

    Salam takzim.
    Samsoe Basaroedin.
    Alumnus LMD angkatan 40 , Salman ITB.
    ( Wakil Sekum PP AMKI ).

    ]]>
    Kode Etik & Prinsip-prinsip Komunikasi dalam Perspektif Al Quran https://amki.ac.id/kode-etik-prinsip-prinsip-komunikasi-dalam-perspektif-al-quran/ Tue, 14 Feb 2023 03:53:00 +0000 https://amki.ac.id/?p=991
  • Kode Etik & Prinsip-prinsip Komunikasi dalam Perspektif Al Quran .
  • Bahwasanya spesies manusia adalah makhluq ciptaan Allah yang fithrahnya paling mulia dan dikaruniai-Nya kelebihan yang sempurna ketimbang semua jenis makhluq yang lain , sudah kita maklumi bersama ( QS 17 Al Israa’ ayat 70 ) .
  • Salah satu kelebihan manusia tersebut adalah kemampuan Al Bayaan , sebagaimana tertera pada awal surat Ar Rahmaan :

    • Ar Rahmaan.
    • Yang telah mengajarkan Al Qur-aan.
    • ( Dia ) menciptakan manusia.
    • ( Dia ) mengajarinya Al Bayaan.

    Para mufasir , baik pada era salaf maupun era khalaf , menafsirkan al Bayaan terkait dengan kemampuan berbicara dan berkomunikasi secara runtut , jernih dan jelas.
    Sebuah kompetensi yang memungkinkan manusia mengembangkan peradaban madani , termasuk sains & teknologi di dalamnya.

    Jadi , kemampuan berbicara , berkomunikasi dan berargumen adalah salahsatu unsur asasi peradaban.

    (1) Paradigma Komunikasi Qur’ani mengajari kita agar berkomunikasi :

    • dengan hikmah ( kearifan / kebijaksanaan / wisdom ).
    • dengan maw’izhah / nasihat yang baik.
    • dengan diskusi dan argumen yang terbaik.
      ( QS 16 surat an Nahl ayat 125 ).

    (2) Baik Komunikator maupun Komunikan , hendaknya meyakini bahwa Al Qur’an sebagai informasi adalah Furqaan ( pembeda haqq & bathil ) ( QS 2 Al Baqarah ayat 185 ) ( QS 25 Al Furqaan ayat 1 ) , juga sebagai ” laqawlun fashlun” ( pemisah haqq dengan bathil ) ( QS 86 Ath Thaariq ayat 13 ).

    (3) Adab-adab Berkomunikasi dalam Al Qur’an :

    a. Qawlan Ma’ruufan / ujaran yang ma’ruf / baik.
    ( QS 2 Al Baqarah yat 235 ) ( QS 4 An Nisaa’ ayat 5 ) ( QS 4 An Nisaa’ ayat 8 ) ( QS 33 Al Ahzab ayat 32 ).

    b. Qawlan Sadiidan / ujaran yang benar dan tepat sasaran.
    ( QS 4 An Nisaa’ ayat 9 ) ( QS 33 Al Ahzab ayat 70 ).

    c. Qawlan Baliighan / ujaran yang mengesankan .
    ( QS 4 An Nisaa’ ayat 63 ).

    d. Qawlan Kariiman / ujaran yang mulia & beradab / sangat sopan.
    ( QS 17 Al Israa’ ayat 23 ).

    e. Qawlan Maysuuran / ujaran yang pantas dan tidak menyinggung perasaan.
    ( QS 17 Al Israa’ ayat 28 ).

    f. Qawlan ‘Azhiiman / ujaran yang agung.
    ( QS 17 Al Israa’ ayat 40 ).

    g. Qawlan Tsaqiilan / ujaran yang berbobot & berkualitas.
    ( QS 73 Al Muzzammil ayat 5 ).

    h. Qawlan Layyiinan / ujaran yang lemah lembut.
    ( QS 20 Thaa Haa ayat 44 ).

    (4) Dalam berkomunikasi , hendaknya komunikator menggunakan bahasa yang dimengerti
    oleh para komunikan.
    ( QS 14 Ibrahim ayat 4 ).

    (5) Komunikator hendaknya secara konsisten memberikan contoh keteladanan , satunya kata dan perbuatan.
    ( QS 61 Ash Shaff ayat 2 – 3 ) ( QS 2 Al Baqarah ayat 44 ).

    (6) Para komunikan hendaknya teliti , melakukan tabayyun & verifikasi , dalam rangka mencegah hoax , fitnah , dusta dan kabar bohong.
    ( QS 49 Al Hujuraat ayat 6 ).

    (7) Adab saling menghormati antara komunikator dengan para komunikan , dalam rangka menyebarkan doktrin Salaaman ( = keselamatan ).
    ( QS 11 surat Huud ayat 69 ).

    Wa Allahu a’lam bish shawab.

    Salam takzim.
    Samsoe Basaroedin.

    ]]>
    SIDRAH AL MUNTAHA : Hakikat dan Makna https://amki.ac.id/sidrah-al-muntaha-hakikat-dan-makna/ Sun, 12 Feb 2023 03:52:00 +0000 https://amki.ac.id/?p=989 SIDRAH AL MUNTAHA :
    Hakikat dan Makna.

    Mukjizat Isra’ dan Mi’raj digambarkan di dalam 2 surat.

    Israa’ atau perjalanan malam tertuang di dalam surat 17 Al Israa’ ayat 1.

    Sementara Mi’raj atau perjalanan naik , termuat di surat 53 An Najm ayat 13 sampai ayat 18.

    Kata mi’raj yang berarti tempat naik atau tangga , adalah bentuk tunggal. Bentuk jama’ nya adalah Ma’aarij , justru menjadi judul surat ke 70.

    Yang juga amat penting , di dalam surat An Najm ayat 14 muncul ungkapan Sidrah Al Muntaha.

    Istilah Sidrah muncul di dalam Al Qur’an sebanyak 4 kali.
    Dua ( 2 ) kali di surat An Najm ayat 14 dan ayat 16.
    Sekali di surat 34 Saba’ ayat 16. Sekali di surat 56 Al Waaqi’ah ayat 28.

    Konteks ayatnya : yang di surat An Najm dalam kaitan mukjizat Israa’ & Mi’raj , yang di surat Saba’ terkait dengan kemakmuran negeri Saba yang karena durhaka justru berakhir dengan malapetaka. Sementara yang di surat Al Waaqi’ah terkait dengan kenyamanan Taman Surga Jannah nanti , yang disediakan bagi Golongan Kanan ( Ashaabu Al Yamiin ) , yaitu orang-orang yang beriman . [ QS 56 Al Waaqi’ah ayat 27 — 40 ] .

    Mufassir Muhammad Asad di dalam The Message of the Qur’an , menerjemahkan Sidrah Al Muntaha itu dengan ” lote tree of the farthest limit ” ( pohon lotus pada batas yang terjauh ) .

    Kita di Indonesia , biasa menyebut pohon lotus dengan pohon bidara , teratai , atau seroja .
    Pohon lotus yang tumbuh di padang pasir Timur Tengah dan Afrika , sejak era Mesir Kuno sudah lazim digunakan sebagai simbol kebijaksanaan , kearifan , atau wisdom.

    Bahkan Danah Zohar dan Ian Marshall , dalam riset lapangan sewaktu menulis buku Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence , menemukan fakta bahwa bunga atau pohon lotus , lazim digunakan sebagai simbol kesadaran spiritual di dalam berbagai religi di dunia.

    Dengan perkataan lain , Sidrah Al Muntaha adalah lambang kearifan atau kebijaksanaan tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang manusia pilihan , yang tidak mungkin ada tandingannya , karena tidak ada lagi wisdom yang lebih tinggi dari itu.

    Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam dalam mukjizat Mi’raj tersebut , telah sampai ke Sidrah Al Muntaha , bermakna beliau telah mencapai kearifan tertinggi yang pernah dikaruniakan Allah SWT kepada makhluk ciptaan-Nya.

    Ini selaras dengan surat 68 Al Qalam ayat 4 :
    ” Sesungguhnya engkau ( = Muhammad ) benar-benar berakhlak agung “.

    Makna majazi lain dari pohon Sidrah adalah keteduhan , kerindangan , ketenangan dan kedamaian.

    Ini sejalan dengan gambaran surat 56 Al Waaqi’ah ayat 28 yang menyebut bahwa kelak Golongan Kanan ( Ashaab Al Yamiin ) akan berdiam di Taman Jannah yang tenang , teduh dan damai serta memiliki pohon Sidrah yang berbuah lebat. Ini menguatkan surat 53 An Najm , bahwa Sidrah Al Muntaha itu berada bersebelahan dengan Taman Jannah Al Ma’waa. ( Taman Surga , tempat kediaman damai abadi ) .
    [ QS 53 An Najm ayat 14 — 15 ] .

    Jadi , makna metafora tersebut selaras dengan makna hakiki nya di Taman Surga kelak.

    Subhana-Llah.
    Alhamduli-Llah.

    Salam takzim.
    Samsoe Basaroedin.
    ( Wkl. Sekum PP AMKI )
    ( DPS Rumah Amal & Wakaf Salman ).

    ]]>
    RISALAH ISLAM dan KEMAJEMUKAN MASYARAKAT MADANI https://amki.ac.id/risalah-islam-dan-kemajemukan-masyarakat-madani/ Fri, 10 Feb 2023 03:51:00 +0000 https://amki.ac.id/?p=987 Oleh : Samsoe Basaroedin .
    ( Wkl. Sekum PP Asosiasi Masjid Kampus Indonesia ).

    Sesungguhnya risalah Islam yang abadi , sebagaimana pengutusan Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam , adalah mewujudkan rahmat bagi segenap alam semesta , demi kebahagiaan , kesejahteraan dan kemaslahatan umat manusia.

    Al Qur’an surat 21 Al Anbiya’ ayat 107 :
    “Dan tidaklah Kami utus engkau ( = Muhammad ) kecuali untuk menjadi rahmat bagi segenap alam “.

    Tugas mulia ini , telah diemban , dilsksanakan dan diperjuangkan oleh Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam beserta seluruh sahabat yang mulia dengan memfungsikan Masjid Nabawi sebagai pusat pembinaan mujahid dakwah , pengembangan masyarakat madani dan pembangunan peradaban Islam yang agung.

    Masjid adalah lembaga penjaga dan penegak nilai , pembangun moralitas umat manusia dalam kehidupan bermasyarakat , berbangsa dan bernegara.

    Berawal dari masjid : Al Qur’an dan Sunnah Rasul diamalkan , ruh jihad dikumandangkan , amar ma’ruf dan nahi munkar diserukan , keadilan ditegakkan serta kebenaran dan kemerdekaan dipertahankan.
    Berawal dari masjid jugalah berkembangnya masyarakat madani serta terwujudnya negeri sejahtera lahir dan batin.

    Masyarakat madani atau Al Mujtama Al Madani , oleh Syed Muhammad Naquib Al Attas dinyatakan sebagai : masyarakat madani adalah ” a religion-based society founded upon ethics and moral system of Islam .”
    Batasan ini beliau kemukakan di dalam buku beliau ” Islam : The Concept of Religion and the Foundation of Ethics and Morality yang diterbitkan oleh Angkatan Belia Islam Malaysia pada tahun 1976.

    Definisi ringkas tersebut dapat dijabarkan sebagai sebuah masyarakat majemuk — multi kultural , multi etnis , multi religi — yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip asasi Islam dalam melindungi dan menghormati segenap warga , memajukan kesejahteraan lahir dan batin , mencerdaskan kehidupan dengan keadilan hukum , persamaan hak , toleransi , kontrol sosial , serta kemerdekaan beragama bagi warga non-muslim berdasarkan asas : tidak ada paksaan untuk ( memeluk ) agama ( Islam ).
    [ QS Al Baqarah ayat 256 ] .

    Batasan tersebut di atas , jelas sejalan dengan cita-cita Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur — visi impian kaum muslimin sepanjang masa.

    Visi tersebut sewaktu era Madinah terealisasi dalam wujud praksis Negara Madinah oleh Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam beserta kaum muslimin Muhajirin dan Anshar. Kemajemukan masyarakat Madinah saat itu — masyarakat multi kultural , multi etnis multi religi — diikat oleh sebuah kontrak sosial tertulis yang secara jenial disusun oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam setelah bermusyawarah dengan seluruh kepala-kepala suku yang mewakili kepentingan etnis dan religi warga negara Negara Madinah.

    Kontrak tertulis tersebut juga merupakan sebuah konstitusi tertulis yang pertama di dunia. Konstitusi tertulis ini biasa disebut Piagam Madinah ( Dustur Madinah ).

    Piagam ini merupakan wujud kesepakatan antar berbagai etnis yang memeluk bermacam agama.
    Di dalamnya terkandung prinsip-prinsip dasar sebuah pemerintahan negara. Melalui piagam ini , diperkenalkanlah konsep ” ummah ” untuk menciptakan kohesi sosial , memperkuat titik-titik temu sosial , politik dan ekonomi di antara berbagai kemajemukan masyarakat multi kultural di Madinah.

    Dalam bingkai kesatuan ummah itulah diletakkan prinsip-prinsip toleransi , keadilan , musyawarah ( syura ) , perdamaian , supremasi hukum , persamaan hak , partisipasi politik , kontrol sosial , kebebasan beragama , kemerdekaan dari kemiskinan dan rasa takut .

    Di dalam Pasal 25 Piagam Madinah misalnya , ditegaskan prinsip kebebasan beragama : ” Bagi kaum Yahudi agama mereka , dan bagi kaum Muslimin agama mereka ” , sebagai implementasi surat Al Kafirun ayat 6 :
    ” Bagi kalian agama kalian , dan bagiku agamaku “.

    Pada dasarnya risalah Islam memang ditujukan kepada kondisi masyarakat majemuk .

    Bahkan Al Qur’an surat Al Hujurat ayat 13 memberikan pedoman pengelolaan kemajemukan bangsa ; etnis dan budaya :
    ” Wahai sekalian manusia ; sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang wanita ; dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa di antara kalian . “

    Ayat tersebut mengajarkan :

    Pertama ; doktrin persamaan hak bagi manusia. Persamaan hak ini berlaku untuk seluruh manusia tanpa melihat perbedaan kelompok ; etnis ; warna kulit ; kedudukan dan keturunan.

    Kedua ; doktrin pengakuan atas eksistensi bangsa-bangsa ( syu’ub ; bentuk tunggalnya : sya’b ) dan eksistensi suku-suku ( qabail ; bentuk tunggalnya : qabilah ) .
    Keberadaan bangsa ; suku dan ( dengan sendirinya ) budaya yang beraneka diakui dan dikehendaki oleh Allah SWT. Bukan untuk saling bertikai ataupun saling leceh- melecehkan ; melainkan untuk saling mengenal satu sama lain termasuk mengenal kelebihan dan kekurangan diri sendiri maupun pihak lain .
    Pada gilirannya akan tercipta situasi saling menghargai dan saling sharing penuh keselarasan.

    Mosaik ” Negara Damai Sejahtera” semacam itulah , yang oleh Robert N. Bellah , di dalam buku beliau ” Beyond Belief ” , dikomentari sebagai terlalu modern untuk ukuran zamannya.

    Jadi , konsep Masyarakat Madani di Negara Madinah tersebut , seyogyanya menjadi semacam ” blue print ” sosial yang menjadi acuan pelaksanaan Syariat Islam di manapun sepanjang masa.

    Ironinya , justru pasca era Orde Baru , sepanjang era Reformasi yang sudah berlangsung selama 24 tahun lebih — disadari atau tidak — realitas sosial politik ekonomi di Indonesia , telah merontokkan segenap tatanan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia , justru pada sendi utamanya , yaitu kemajemukan sebuah masyarakat multi kultural ; multi religi dan multi etnis .

    Betapa bangsa ini bagai terbelah , istilah cebong-kampret , pelabelan ” kadrun ” secara sewenang-wenang , perlakuan hukum diskriminatif , membanjirnya fitnah tuduhan anti NKRI , radikal dan pelabelan terorisme terhadap sebagian ulama dan kaum muslimin , pembullyan simbol-simbol keislaman , membanjirnya proyek-proyek mercu suar yang lebih mementingkan interest oligarki dan bukannya kepentingan rakyat , bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia .

    Kenyataan pahit ini masih harus ditambah menggunung nya hutang luar negeri , justru di tengah korupsi yang merajalela baik di jajaran eksekutif , legislatif maupun yudikatif .

    Saat ini , setelah terpapar wabah pandemik covid nyaris selama 3 tahun , jumlah rakyat yang fakir dan miskin mencapai 115 juta orang , sebuah angka yang Na’udzu bi-Llahi min dzalika , sangat memprihatinkan.

    Sekaranglah saatnya , dakwah bi lisanil maqal berbentuk Nahi Munkar dan dakwah bi lisanil Haal berbentuk pengamalan filantropi harus ditegakkan secara sungguh-sungguh.

    Hendaknya para kader dakwah Islam menjalankan prinsip-prinsip dakwah yang penuh keadilan , kebajikan dan kasih sayang terhadap sesama warga bangsa.
    Perlakukan semua manusia dengan kebajikan dan kasih sayang , walaupun mereka tidak mengakui kebenaran Islam dan juga tidak memeluknya , selama mereka tidak menghalangi dakwah Islam , tidak memerangi para penyeru dakwah Islam , serta tidak menindas dan
    menzhalimi para pemeluk Islam.

    Keluarkan lah Zakat harta bagi semua Muzakki . Galakkan infaq , shadaqah dan waqaf dalam semua bentuk mauquf alayh berupa program-program nyata pemberdayaan fakir dan miskin agar mereka bisa lolos dari jeratan kefakiran dan kemiskinan .

    Semoga dengan langkah – langkah konkrit dakwah yang simpatik dan empatik tersebut , Allah SWT berkenan membuka pintu-pintu keberkahan dengan rahmat dan kasihsayang-Nya.

    Semoga Allah SWT meridhai semua langkah dan upaya kita dalam mengembangkan masyarakat madani menuju terwujudnya negeri sejahtera lahir dan batin : Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur , di Indonesia.

    In sya’Allah.
    Aamiin ya Mujibas Saayliin.

    ]]>
    Memaknai Hadits https://amki.ac.id/memaknai-hadits/ Sat, 09 Jul 2022 01:01:48 +0000 https://amki.ac.id/?p=973 Saya acapkali , dalam masalah-masalah furu’ yang bersifat ijtihadiyah , seringkali mengutip hadits shahih muttafaq alayh , dari sahabat-sahabat Amr bin Ash R’A dan Abu Hurairah R’A :
    ” Apabila seorang hakim berijtihad , tetapi ternyata salah , maka dia memperoleh satu pahala. Dan apabila benar , akan mendapatkan dua pahala .”
    ( HR Bukhari : 8352 ) ( HR Muslim : 1716 ).

    Saya pribadi , memahami bahwa hadits tersebut memotivasi para hakim untuk berani memutuskan pengambilan keputusan dalam perkara apapun yang belum ada preseden dan contoh sebelumnya. Tentu saja ini mutlak dibutuhkan , karena peradaban manusia dinamis dan berkembang dari masa ke masa.
    Bagian terpentingnya adalah : keputusan seorang hakim yang adil dan jujur , dalam perkara apapun — benar ataupun salah ( hasil keputusannya ) — tidak pernah tergolong dosa, karena senantiasa berpahala.
    Jadi , problemnya bukan besar-kecilnya pahala. Namun lebih kepada hajat akan keputusan / vonis yang muncul dari upaya keras dan serius untuk menyimpulkan / istinbath hukum dengan mengerahkan segala daya kemampuan akal dan nurani sang hakim.

    Begitupun terkait berbagai ikhtilaf hal-hal furu’ terkait baik ‘ibadah ritual , muamalah , siyasah , munakahah , maupun muwaratsah.
    Itu bisa mengemuka dalam hal miqat makani jamaah haji gelombang ke 2 : di angkasa di atas Qarnul Manasil kah ? , ataukah di Bandara Jeddah ?
    Bisa terkait kapan tepatnya bulan baru ( 1 Ramadhan , 1 Syawal atau 1 Dzulhijjah ).

    Yang ingin saya garisbawahi : tidak boleh menghakimi pihak yg berbeda pendapat dengan kita , dengan ungkapan-ungkapan yg tidak layak dan tidak pantas diucapkan untuk saudara kita sesama muslim.
    Apatah lagi memvonis : bid’ah , fasiq , dan semacamnya.

    Sebetulnya , dalam hal-hal yang bersifat area publik & kemasyarakatan , ada kaidah fiqih yang bisa menjembatani , yaitu apabila ada keberadaan seorang hakim / qadhi / mufti negara.
    Kaidah fiqih tersebut bisa kita temukan , misalnya di dalam kitab
    Al-Ibaahah ‘inda al-Ushuliyyin wa al-Fuqaha — karya Salam Madkur :

    ” Hukum yang diputuskan oleh hakim dalam masalah-masalah ijtihad , akan menghilangkan perbedaan pendapat “.

    Masalahnya , kita di Indonesia tidak memiliki hakim / qadhi / mufti negara.
    Berbeda halnya dengan Malaysia , Mesir, Saudi Arabia , Brunei Darussalam , dan lain-lain.

    Walhasil , kaum muslimin Indonesia betul-betul harus tasamuh dan saling menghormati ikhtilaf ijtihadiyah yang wujud di antara kita.

    Sekali lagi saya garisbawahi : Bukan soal pahala 2 atau pahala 1 , namun tidak ada yang berdosa dalam hal ikhtilaf furu’ ijtihadiyah.

    Salam takzim.
    Samsoe Basaroedin.

    ]]>
    Refleksi & Muhasabah . https://amki.ac.id/refleksi-muhasabah/ Thu, 07 Jul 2022 12:28:44 +0000 https://amki.ac.id/?p=968 MERAWAT KEIMANAN Men-TAUHID-kan ALLAH .

    Apalah artinya keimanan dan perjuangan dakwah
    bertahun-tahun , sekiranya kita tergoda murtad keluar dari jalur tauhiduLlah ?
    Barangkali kita ( sok yakin ) : tak mungkinlah , mustahil bagiku. Aku gak mungkin murtad.

    Ikhwan dan akhwat seperjuangan : tak ada yang mustahil di kolong langit ini.

    Ingatkah kita akan kisah seorang mujahid di generasi tabi’in yang hafal al Qur’an 30 juz , pejuang medan perang melawan pasukan Romawi. Jatuh murtad karena jatuh cinta kepada seorang gadis Romawi yang jelita.
    Meninggalkan iman tauhid , meyakini trinitas hingga akhir hayatnya. Wafat dalam keadaan syirik. Hilang hafalan dan keyakinan Qur’annya , menguap tak berbekas .

    Kisah tersebut dapat dibaca di dalam kitab Al Bidayah wa an Nihayah , karya Imam Ibnu Katsir , yang meriwayatkannya dari Imam Ibnu Jauzi.
    Pemuda hafizh Al Qur’an tersebut tidak disebutkan nama jelasnya. Hanya disebut sebagai salah seorang murid dari Abdah bin ‘Abdurrahim , seorang shalih di generasi tabi’in.
    Abdah bin ‘Abdurrahim ini adalah guru Imam An Nasa-i.
    ( Abdah bin ‘Abdurrahim wafat pada tahun 244 Hijriyah ).

    Apalah arti iman , amal shalih , ‘ibadah dan perjuangan dakwah kita , dibandingkan si pemuda anonim yang hafizh Qur’an dan berjuang di medan perang yang heroik tersebut.

    Jadi , sebaiknya kita waspada dan tawadhu’ bahwa tidaklah mustahil setiap muslim bisa terpeleset ke dalam musibah maha dahsyat ini : murtad keluar dari tauhidu-Llah.
    Na’udzu bi-Llahi min dzalika.

    Berarti kita harus senantiasa berjuang dan merendahdiri memohon kepada Allah SWT agar secara berkesinambungan membimbing kita istiqamah di jalan-Nya.

    Boleh jadi terpikir oleh kita bukantah sehari 24 jam minimal 17 kali kita membaca al Fatihah di dalam shalat fardhu 5 waktu , belum lagi di dalam shalat-shalat sunnat kita. Bukankah itu berarti kita selalu memohon hidayah-Nya , guna mengikuti jejak para Nabi , shiddiqin , syuhada dan shalihin.
    ( tafsir al Fatihah ayat 7 dengan surat an Nisa’ ayat 69 ).

    Pada hemat saya , upaya do’a tersurat tersebut — meminjam istilah matematika dan ekonomi — adalah ” syarat perlu ” , namun belum mencakup ” syarat cukup “.

    Bahwasanya surat Al Fatihah adalah Ummul Kitab yang mencakup seluruh substansi matan Al Qur’an , adalah suatu preposisi mutlak. Bahkan suatu keniscayaan .

    Namun adalah suatu fakta juga bahwa beratus do’a spesifik tersurat di dalam al Qur’an. Bahkan ada yang wajib dibaca sebagai do’a baku di antara Rukun Yamani dan Rukun Hajar Aswad sewaktu kita umrah atau haji , yaitu do’a sapu jagad.

    Hemat saya , begitu pun dalam hal memohon istiqamah dan keteguhan hati memeluk keyakinan tauhidu-Llah. Kita perlu semacam ” syarat cukup ” agar diijabah-Nya dalam keteguhan taat kepada-Nya.

    Do’a spesifik itu adalah surat Ali ‘Imran ayat 8 :
    ” Wahai Rabb kami , janganlah Engkau gelincirkan qalbu kami kepada kesesatan , sesudah kami Engkau beri hidayah , dan limpahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu , karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi ( Rahmat ) “.
    Bahkan bisa kita lengkapi dengan do’a spesifik yang diajarkan oleh Rasulu-Llah yang termuat di Kutubus Sittah :
    ” Wahai Dzat yang membolak-balik qalbu , teguhkanlah qalbu hamba di dalam agama-Mu “.

    Maka , janganlah lupa , berdo’alah dengan ke 2 do’a spesifik tersebut di setiap saat setelah menegakkan shalat 5 waktu.
    In sya’ Allah .

    Salam takzim .
    Samsoe Basaroedin.

    ]]>
    REMINDER : https://amki.ac.id/reminder/ Sat, 25 Jun 2022 10:10:30 +0000 https://amki.ac.id/?p=965 Beberapa hari lagi kita in sya’ Allah akan memasuki bulan Dzulhijjah 1443 H.
    Di samping itu pada pertengahan Juli nanti , matahari akan tepat berada di atas Ka’bah.
    Momen tersebut bisa kita manfaatkan untuk memverifikasi arah kiblat di rumah , kantor , mushalla atau masjid di dekat rumah kita.

    Sunnah Rasul di Bulan Dzulhijjah :

    • 10 Hari Awal Dzulhijjah :

    ( 1 ) Hari-hari yang amal shalih di dalamnya amat dicintai oleh Allah SWT. Kita disunnatkan memperbanyak tahlil , takbir dan tahmid . Hendaknya banyak berzikir dan beramal shalih.
    ( Salahsatu tafsir dari surat Al Fajr ayat 2 )
    ( Hadits Ibnu Umar di dalam Musnad Ahmad )
    ( Hadits Ibnu Umar di dalam Shahih Bukhari )

    ( 2 ) Memperbanyak shaum sunnat bagi yang tidak berhaji dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah . Terutama shaum Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah , yang bisa menghapus dosa-dosa kecil setahun yang lalu dan setahun ke depan.
    ( Hadits Abu Qatadah di dalam Musnad Ahmad ).

    ( 3 ) Bagi muslim yang hendak berqurban , hendaknya tidak memotong kuku dan
    rambutnya dari sejak awal Dzulhijjah sampai saat ia menyembelih hewan qurbannya.
    ( Shahih Muslim , 3 , hadits no. 1977 ).

    ( 4 ) Bertakbir / takbiran sejak subuh hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah sampai akhir hari tasyriq jelang maghrib tanggal 13 Dzulhijjah.

    ( 5 ) Disunnatkan untuk mandi besar , memakai pakaian terbagus dan minyak wangi ( khususnya pria ) sebelum shalat Iedul Adh-ha.

    ( 6 ) Disunnatkan tidak makan dan minum sebelum shalat Iedul Adh-ha.

    ( 7 ) Disunnatkan rute berbeda saat berangkat ke dan pulang dari tanah lapang ( mushalla ) tempat shalat Iedul Adh-ha.
    Sedapat mungkin berjalan kaki dan saling mendoakan dengan sesama muslim yang jumpa di jalan.

    ( 8 ) Menyembelih hewan qurban bagi yang mampu. Waktu penyembelihan dari seusai shalat Iedul Adh-ha sampai maghrib tanggal 13 Dzulhijjah.

    ( 9 ) Khusus untuk bulan Dzulhijjah , shaum sunnat Ayyamul Bidh hanya pada tanggal 14 dan 15 Dzulhijjah , karena diharamkan shaum selama hari Iedul Adh-ha ( 10 Dzulhijjah ) dan hari-hari tasyriq ( 11 , 12 dan 13 Dzulhijjah ).

    Semoga kita mampu menegakkan Sunnah Rasul. Aamiin.

    • Fenomena Matahari di Atas Ka’bah.

    Dalam setahun , matahari tepat berada di atas kota Makkah saat zhuhur pada tanggal -tanggal berikut :

    • 26 — 30 Mei , jam 16.18 — 16.23 WIB.
    • 14 — 18 Juli , jam 16.27 — 16.32 WIB.

    Jadi selama 5 menit tersebut , kita dapat menentukan arah kiblat secara tepat , murah dan mudah , asalkan cuaca cerah dan tidak berawan / mendung.
    Bila matahari tepat di atas kota Makkah , otomatis bayangan benda yg tegak lurus di atas permukaan tanah , akan menjauhi arah kota Makkah. Arah kiblat adalah kebalikannya , yaitu persis dari ujung bayangan ke arah pangkal bayangan benda.
    Ini eksak dan pasti.
    Semoga kita dapat memverifikasinya.
    NB :
    Masjid di dekat rumah saya , selama bertahun-tahun arah kiblatnya keliru 20 derajat. Dengan metoda sederhana ini terungkap kekeliruannya. Lalu dgn berbagai metoda dan peralatan geodetik , arah tepatnya dipastikan.
    Alhamdu li-Llah.

    Salam takzim.
    Samsoe Basaroedin.

    ]]>
    SIDRAH AL MUNTAHA https://amki.ac.id/sidrah-al-muntaha/ Fri, 04 Mar 2022 11:39:21 +0000 https://amki.ac.id/?p=914 Hakikat dan Makna.

    Mukjizat  Isra’ dan Mi’raj digambarkan di dalam 2 surat. Israa’ atau perjalanan malam tertuang di dalam surat 17 Al Israa’ ayat 1. Sementara Mi’raj atau perjalanan naik , termuat di surat 53 An Najm ayat 13 sampai ayat 18.

    Kata mi’raj yang berarti tempat naik atau tangga , adalah bentuk tunggal. Bentuk jama’ nya adalah Ma’aarij , justru menjadi judul surat ke 70.

    Yang juga amat penting , di dalam surat An Najm ayat 14 muncul ungkapan Sidrah Al Muntaha.

    Istilah Sidrah muncul di dalam Al Qur’an sebanyak 4 kali.

    Dua ( 2 ) kali di surat An Najm ayat 14 dan ayat 16.  Sekali di surat 34 Saba’ ayat 16. Sekali di surat 56 Al Waaqi’ah ayat 28.

    Konteks ayatnya : yang di surat An Najm dalam kaitan mukjizat Israa’ & Mi’raj , yang di surat Saba’ terkait dengan kemakmuran negeri Saba  yang karena durhaka justru berakhir dengan malapetaka. Sementara yang di surat Al Waaqi’ah terkait dengan kenyamanan Taman Surga Jannah nanti , yang disediakan bagi Golongan Kanan ( Ashaabu Al Yamiin ) , yaitu orang-orang yang beriman . [ QS 56 Al Waaqi’ah ayat 27 — 40 ] .

    Mufassir Muhammad Asad di dalam The Message of the Qur’an , menerjemahkan Sidrah Al Muntaha itu dengan ” lote tree of the farthest limit ” ( pohon lotus pada batas yang terjauh ) .

    Kita di Indonesia , biasa menyebut pohon lotus dengan pohon bidara , teratai , atau seroja .

    Pohon lotus yang tumbuh di padang pasir Timur Tengah dan Afrika , sejak era Mesir Kuno sudah lazim digunakan sebagai simbol kebijaksanaan , kearifan , atau wisdom.

    Bahkan Danah Zohar dan Ian Marshall , dalam riset lapangan sewaktu menulis buku Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence , menemukan fakta bahwa bunga atau pohon lotus , lazim digunakan sebagai simbol kesadaran spiritual di dalam berbagai religi di dunia.

    Dengan perkataan lain , Sidrah Al Muntaha adalah lambang kearifan atau kebijaksanaan tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang manusia pilihan , yang tidak mungkin ada tandingannya , karena tidak ada lagi wisdom yang lebih tinggi dari itu.

    Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam dalam mukjizat Mi’raj tersebut , telah sampai ke Sidrah Al Muntaha , bermakna beliau telah mencapai kearifan tertinggi yang pernah dikaruniakan Allah SWT kepada makhluk ciptaan-Nya.

    Ini selaras dengan surat 68 Al Qalam ayat 4 :

    ” Sesungguhnya engkau ( = Muhammad ) benar-benar berakhlak agung “.

    Makna majazi lain dari pohon Sidrah adalah keteduhan , kerindangan , ketenangan dan kedamaian. Ini sejalan dengan gambaran surat 56 Al Waaqi’ah ayat 28 yang menyebut bahwa kelak Golongan Kanan ( Ashaab Al Yamiin ) akan berdiam di Taman Jannah yang tenang , teduh dan damai serta memiliki pohon Sidrah yang berbuah lebat. Ini menguatkan  surat 53 An Najm , bahwa Sidrah Al Muntaha itu berada bersebelahan dengan Taman Jannah Al Ma’waa. ( Taman Surga , tempat kediaman damai abadi ) .

    [ QS 53 An Najm ayat 14 — 15 ] .

    Jadi , makna metafora tersebut selaras dengan makna hakiki nya di Taman Surga kelak.

    Subhana-Llah.

    Alhamduli-Llah.

    Salam takzim.

    Samsoe Basaroedin.

    REMINDER  :

    Sahabat – sahabat ysh.

    Hari ini,   Jum’at 4 Maret 2022 bertepatan dengan tanggal 1 Sya’ban 1443  Hijriyah. Mengingatkan salahsatu Sunnah Rasul , yaitu memperbanyak shaum sunnat di bulan Sya’ban , sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan imam Muslim ( muttafaqun ‘alaih) , dari Siti ‘Aisyah R’A , ia berkata : ” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallama tidak pernah berpuasa satu bulan yang lebih banyak ketimbang bulan Sya’ban. Bahkan beliau biasa berpuasa Sya’ban sebulan penuh. Beliau menyatakan : [ Lakukanlah amal sesuai kemampuan kalian , karena sesungguhnya Allah tidak bosan sampai kalian sendiri yang merasa bosan ] “.

    Hadits ini tentu saja harus dipadukan dengan hadits shahih yang lain yang juga diriwayatkan oleh imam Bukhari dan imam Muslim , dari sahabat Abu Hurairah R’A , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallama , beliau bersabda : ” [ Janganlah salah seorang kalian mendahului puasa Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari , kecuali bagi yang biasa berpuasa , maka dia boleh berpuasa pada hari itu ] ” .

    Marilah kita memperbanyak shaum sunnat pada bulan Sya’ban ini. Bagi yang terbiasa bahkan boleh sebulan penuh sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallama sendiri. Namun seumumnya kita , silakan  menyiasatinya dengan shaum sunnat Senin & Kamis plus shaum 3 hari di hari-hari putih pada tanggal 13 , 14 dan 15 Sya’ban , bertepatan dengan tanggal 16 , 17 dan 18 Maret 2022 nanti. Kemudian jangan shaum sunnat pada hari terakhir Sya’ban 1443 bertepatan dengan Jum’at 1 April 2022.

    Mari menyongsong Ramadhan 1443 dengan ghirah sepenuh keimanan mengharap maghfirah dan ridha-Nya.

    Aamiin ya Allah.

    Wa Allahu a’lam bish shawab.

    Salam takzim.

    Al faqir : Samsoe Basaroedin.

    RENUNGAN BISNIS dengan ALLAH  SWT.

    Subhana-Llah. Betapa luar biasa pemurahnya , Allah SWT. 

    Diri kita seutuhnya , rizqi kita. Termasuk harta kita . Hakikatnya adalah milik Allah SWT secara hakiki. Tanpa ada pengecualian.

    Ungkapan ……” milik Allah , segala sesuatu yang ada di langit dan yang ada di bumi ” ……….dalam berbagai bentuk , tersurat di dalam banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an.

    Dan milik Allah yang terejawantah di dalam diri kita seutuhnya : diri pribadi kita dan harta benda kita , tiba-tiba ” dibeli ” oleh Allah SWT dengan imbal balik Taman Surga Al Jannah.

    QS 9 Al Taubah ayat 111 memproklamasikan :

    ”  Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min , diri dan harta mereka , dengan memberikan surga Al Jannah untuk mereka………”

    Tidak cukup dengan itu , kepada kita juga ditawarkan perdagangan yang menyelamatkan kita dari azab neraka yang pedih , yaitu :

    ” ……beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri kalian ……”

    ( QS 61 Al Shaf ayat 11 ).

    Betapa luarbiasa nya berbisnis dengan Allah SWT. Betul-betul sebuah perniagaan yang tak akan pernah rugi …… ( QS 35 Faathir ayat 29 ). Jadi , mari berdagang dengan Allah SWT.

    Salam takzim.

    Samsoe Basaroedin.

    Istilah-istilah terkait ” bisnis ” yang ada di dalam Al Qur’an :

    (1) isytaraa.

    (2) al tijaarah.

    (3) al bai’u.

    (4) tadaayantum.

    [ 1 ]  Kata isytaraa dengan berbagai derivasinya disebut sebanyak 25 kali di dalam Al Qur’an.

    Kata isytaraa dengan semua derivasinya praktis digunakan dalam konteks transaksi manusia dengan Allah , atau transaksi sesama manusia yang dilakukan karena Allah semata , atau juga transaksi dengan tujuan keuntungan manusia walaupun dengan menjual ayat-ayat Allah.

    Contoh penggunaan : QS 9 al Taubah ayat 111.

    [ 2 ] Kata tijaarah dengan derivasinya disebut sebanyak 9 kali di dalam Al Qur’an.

    Kata tijaarah digunakan dalam pengertian perdagangan atau perniagaan , baik berhubungan dengan hal-hal yang bersifat material maupun yang bersifat immaterial. Contoh yang bersifat material adalah QS 9 al Taubah ayat 24. Sedang yang bersifat immaterial adalah QS 35 Faathir ayat 29.

    [ 3 ] Kata bai’a / bai’u dengan berbagai derivasinya disebut sebanyak 15 kali di dalam Al Qur’an.

    Kata bai’a  digunakan dalam 2 makna :

    * Dalam makna jual beli yang halal , dan larangan memperoleh harta benda dengan jalan riba. Contohnya QS 2 Al Baqarah ayat 275 , QS 24 al Nuur ayat 37 , QS 62 al Jumu’ah ayat 9.

    * Dalam makna tidak ada lagi jual beli saat hari kiamat. Contohnya QS 2 Al Baqarah ayat 254 , QS 14 Ibrahim ayat 31.

    [ 4 ] Kata tadaayantum disebut 1 kali dalam Al Qur’an , yaitu di  QS 2 Al Baqarah ayat 282 ,  dengan makna transaksi mu’amalah seumumnya , mencakup hutang piutang , jual beli dan sewa menyewa .

    Semoga dorongan Al Qur’an ini memotivasi kaum mu’miniin untuk berwirausaha dan berbisnis secara amanah , ‘adil , wafa’ dan profesional ( itqan ).

    Aamiin.

    Salam takzim.

    Samsoe Basaroedin.

    * RIWAYAT setiap Dzurriyat [ Banii ] Aadam :

    Sejak Mengikat Perjanjian Primordial Di Alam Arwah ( QS 7 Al A’raf ayat 172 ) , sampai terminal akhir ::  bersimpuh di hadirat Allah SWT di Taman Surga Al Jannah ( QS 89 Al Fajar ayat 30 ) — atau — terhina diazab di kerak neraka Jahannam ( QS 7 Al A’raf ayat 179 ).

    *  [ I ] ALAM ARWAH .

    Mengikat janji primordial di hadirat Allah SWT .

    ( QS 7 Al A’raf ayat 172 ).

    * [ II ]  ALAM RAHIM IBU .

    Satu per satu memasuki Alam Rahim ibu biologis masing-masing . 

    ( QS 31 Luqman ayat 14 ) ( QS 46 Al Ahqaf ayat 15 ).

    * Lahir dan masuk ke Alam Dunia .

    ( QS 41 Fushshilat ayat 47 ) ( QS 46 Al Ahqaf ayat 15 ).

    * [ III ]  ALAM DUNIA .

    Berawal dari disusui selama 2 tahun penuh 

    ( QS 2 Al Baqarah ayat 233 ) ( QS 31 Luqman ayat 14 ).

    Mulailah perjuangan kehidupan di alam dunia.

    ( QS 28 Al Qashash ayat 77 ) ( QS 6 Al An’aam ayat 165 ).

    Perjuangan penuh romantika suka dan duka 

    ( QS 90 Al Balad ayat 4 )

    ( QS 2 Al Baqarah ayat 153 — 157 ).

    Selama hayat di kandung badan , setiap muslim niscaya akan berjuang memahami , menerapkan , mengamalkan dan menegakkan ajaran Al Qur’an dan Sunnah Rasul di dalam kehidupan pribadi , keluarga , masyarakat , bangsa dan negara .

    ( QS 2 Al Baqarah ayat 208 ) ( QS 3 Ali ‘Imran ayat 31) ( QS 4 An Nisa’ ayat 59 ) ( QS 66 At Tahriim ayat 6 ).

    Sampai tibalah saat kematian , semoga berakhir Husnul Khatimah.

    ( QS 3 Ali ‘ Imran ayat 185 ) ( QS 23 Al Mu’minuun ayat 15 ).

    * [ IV ] ALAM BARZAKH / ALAM QUBUR  ( QS 23 Al Mu’minuun ayat 100 ).

    Bagi yang hidupnya berakhir Husnul Khatimah , alam barzakh adalah istirahat panjang penuh kedamaian.

    [ Alhamduli-Llah ] .

    Bagi yang hidupnya berakhir Su-ul Khatimah , alam barzakh adalah azab dan siksa penuh derita ( QS 9 At Taubah ayat 101 )( QS 40 Al Mu’min ayat 45 — 46 ).

    Era Alam Barzakh ini akan berakhir saat tiba Kiamat Kubra.

    * Kiamat Kubra ( QS 34 Saba’ ayat 3 ) ( QS 7 Al A’raf ayat 187 ) ( QS 33 Al Ahzab ayat 63 ).

    * Tiupan Sangkakala yang pertama. ( QS 36 Yaasiin ayat 49 ) ( QS 39 Az Zumar ayat 68 ) ( QS 69 Al Haaqqah ayat 13 ) ( QS 79 An Naazi’aat ayat 7 ).

    * Kehancuran Alam Dunia / Alam Semesta .

    ( QS 20 Thaahaa ayat 105 — 107 ) ( QS 39 Az Zumar ayat 67 ) ( QS 69 Al Haaqqah ayat 14 — 15 ).

    * Tiupan Sangkakala yang ke dua ( QS 36 Yaasiin ayat 51 ) ( QS 39 Az Zumar ayat 68 ) ( QS 79 An Naazi’aat ayat 7 ).

    * [ V ] ALAM AKHIRAT.

    ( QS 2 Al Baqarah ayat 4 ) ( QS 28 Al Qashash ayat 77 ).

    * Kebangkitan kembali di Alam Akhirat .

    ( QS 23 Al Mu’minuun ayat 16 ).

    * Apel dan persidangan di Padang Mahsyar .

    (  QS 14 Ibrahim ayat 48 ).

    * Syafaat Kubra. ( QS 20 Thaahaa ayat 109 ) ( QS 34 Saba’ ayat 23 ).

    * Proses Hisab.

    ( QS 23 Al Mu’minuun ayat 117 ) ( QS 88 Al Ghaasyiyah ayat 26 ).

    * Pembagian dan Penyerahan Buku Sertifikat ‘Amal .

    ( QS 69 Al Haaqqah ayat 19 — 24 , Alhamduli-Llah )

    ( QS 69 Al Haaqqah ayat 25 — 37 , Na’udzu bi-Llahi min dzalika ).

    * Mizan . ( QS 7 Al A’raf ayat 89 ) ( QS 21 Al Anbiya’ ayat 47 ) ( QS 101  Al Qaari’ah ayat 6 — 11 ).

    * Menyeberang di Titian Shirath :

    [ A ] Terjatuh dan terlempar ke Api Neraka , Na’udzu bi-Llahi min dzalika.

    ( QS 36 Yaasiin ayat 63 — 64 ) ( QS 98 Al Bayyinah ayat 6 ).

    [ B ] Proses Memasuki Taman Surga Al Jannah :

    ( B.1) Qishash. 

    ( B.2 ) Telaga Al Haudh  / Al Kautsar . ( QS 108 Al Kautsar ayat 1 ).

    * Tiba di Taman Surga Al Jannah . Alhamduli-Llah.

    ( QS 36 Yaasiin ayat 55 — 58 )

    ( QS 89 Al Fajr ayat 30 )

    ( QS 98 Al Bayyinah ayat 7 — 8 ).

    Aamiin ya Allah.

    Salam takzim.

    Samsoe Basaroedin.

    * RISALAH  ALAM  DUNYA.

    [ Dunya = yang dekat , kini , di sini ] [ 1 ]  Ada / wujud / eksis.

    ( QS 2 ayat 200 ) ( QS 2 ayat 201 ) ( QS 18 ayat 45 — 46 ).

    [ 2 ] Penting dan menentukan .

    ( QS 17 ayat 72 ) ( QS 18 ayat 7 ) ( QS 28 ayat 77 )

    ( QS 67 ayat 2 ).

    [ 3 ] Fana / Akan berakhir .

    ( QS 4 ayat 77 ) ( QS 57 ayat 20 ).

    * RISALAH ALAM BARZAKH / ALAM QUBUR  :

    [ 1 ] Ada / wujud / eksis .

    ( QS 9 ayat 101 )

    ( QS 40 ayat 45 — 46 ).

    [ 2 ] Masa Istirahat Panjang Menunggu Kiamat Kubra ( bagi yang wafat Husnul Khatimah ).

    Masa Siksaan Pendahuluan Menunggu Kiamat Kubra ( bagi yang wafat Su-ul Khatimah ).

    ( Hadits-hadits Shahih ).

    * RISALAH HARI AKHIR / KIAMAT KUBRA .

    [ 1 ] Ada / wujud / eksis.

    ( QS 75 ayat 1 — 15 ) ( QS 77 ayat 8 — 15 ) ( QS 81 ayat 1 — 14 ) ( QS 82 ayat 1 — 5 ).

    [ 2 ]  Manusia akan di-ADILI , di-HISAB dan di-MINTAI PERTANGGUNGJAWABAN secara ADIL.

    ( QS 18 ayat 48 — 49 ) ( QS 40 ayat 15 — 20 ) ( QS 83 ayat 3 — 17 ) ( QS 84 ayat 1 — 14 ) ( QS 88 ayat 25 — 26 ).

    * RISALAH  AKHIRAT ( Hari Esok Yang Jauh ;Tujuan Akhir Nanti ).

    [ 1 ] Ada / Wujud / Eksis.

    ( QS 2 ayat 201 ) ( QS 28 ayat 83 — 84 ) ( QS 87 ayat 17 ).

    [ 2 ] FINAL . 

    ( QS 10 ayat 23 ) ( QS 89 ayat 27 — 30 ).

    [ 3 ] TEMPAT PEMBALASAN yang  ‘ ADIL .

    ( QS 28 ayat 84 ) ( QS 99 ayat 7 — 8 ).

    [ 4 ] KHULUD  ( Terus menerus dalam rentang waktu yang sangat panjang ) ( Rentang Waktu Tak Berhingga ).

    ( QS 10 ayat 26 — 27 ) ( QS 98 ayat 6 — 8 ).

    [ 5 ] WUJUD / BENTUK NYATA  :

    * TAMAN JANNAH  .

    ( QS 89 ayat  30 ).

    * A’RAF  ( benteng tinggi tempat transisi dari API NERAKA menuju TAMAN JANNAH ).

    ( QS 7 ayat 46 — 49 ).

    * NAAR ( API NERAKA ) .

    ( QS 10 ayat 25 — 27 ).

    Semoga kita semua bisa bertetangga bersaudara di Taman Jannah.

    Aamiin ya Allah.

    Salam takzim.

    Samsoe Basaroedin.

    Bahwa penghuni surga lebih sedikit ketimbang penghuni neraka , itu keniscayaan.

    Setiap menyebut kebaikan ( iman , taqwa , syukur , shabar , tawadhu  dll ,) Qur’an senantiasa menggunakan : amat sedikit ( qalilan ).

    Misalnya : qalilan maa tasykurun . ( sangat sedikit di antara kalian yang bersyukur ).

    Namun , jumlah penghuni surga bisa ratusan juta atau milyaran , sesuai proporsi jumlah manusia yg pernah hidup.

    Ada hadits shahih yg menyebut jumlah yg masuk surga langsung , di antara dzurriyat / anak cucu Adam , satu dari seribu orang . Berarti satu per mil ( atau 0,1 % ).

    Jadi , katakanlah dari jumlah manusia saat ini ( =  9 Milyar orang = 9. 10 pangkat 9 orang ) , satu per mil nya = seperseribu × 9.10 pangkat 9 = 9 . 10 pangkat 6 = 9 juta orang.

    Jadi , dari 9 Milyar orang saat ini , yg masuk surga langsung hanya 9 juta orang. 

    Yg lain ( di luar 9 juta orang ini ) , ada yg selamanya di neraka  , dan ada yg cuci dosa dulu di neraka sampai nanti ditransformasikan ke surga setelah usai cuci dosa.

    Wa Allahu a’lam bish shawab.

    Salam takzim.

    Samsoe Basaroedin.

    ]]>
    KEDUDUKAN PARA KHULAFAUR RASYIDIN DI DALAM KEYAKINAN ISLAM https://amki.ac.id/kedudukan-para-khulafaur-rasyidin-di-dalam-keyakinan-islam/ Fri, 17 Dec 2021 06:56:29 +0000 https://amki.ac.id/?p=896 Ada jamaah yang bertanya: Abu Bakar, Umar, Ustman, dan Ali itu menganut Islam Ahsunnah wal jamaah, Syiah atau bukan dua-duanya?

    Perspektif historis, pada masa itu  belum ada Syi’ah dan Sunny. Namun demikian sudah istilah Syi’i Aly (pengikut Aly) sebagai embrio lahirnya aliran Syi’ah. Sementara Ahlussunnah wal-Jama’ah menjadi sebuah aliran, lahir sesudah era Sayyidina Aly. Keduanya terkristalisasi menjadi kekuatan politik aliran pada abad ke 12-13 M. Blok Sunny brpusat di Mesir pasca Sultan Shalahuddin al-Ayyubi berkuasa di Mesir setelah berhasil mengambil alih kekuasaan daulah Fatimiyah berhaluan Syi’ah Ismailliyah (yg mendirikan univ. Al-Azhar Cairo Mesir) abad ke 11-12 M. Sementara Syi’ah berpusat di Iran. (jawaban  ustadz Abdul Malik Usman).

    Saya tidak berpretensi akan menjawab pertanyaan kenalan ustadz Fad secara ” sadidan “.

    Hanya ingin sharing keyakinan semata dambaan meraih keridhaan Allah dan Rasul-Nya.

    Yang pasti , Abu Bakar  R’A , Umar bin Khattab R’A , Utsman bin Affan R’A dan Ali bin Abi Thalib R’A adalah sahabat-sahabat utama Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam.

    Yang pasti juga , istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan juga istilah Syi’ah, belum ada pada era Rasulullah Muhammad SAW. Namun tersurat di dalam hadits-hadits tertentu yg bersifat nubuat masa depan. Itupun dengan nama lain, misalnya dengan sebutan Ar Rafidhah, dan yang dimaksud adalah Syi’ah. Jadi, secara historis, ke-2 istilah tersebut jelas muncul di kemudian hari sebagaimana sudah ditulis oleh ustadz Abdul Malik Usman di atas.

    Saya hanya ingin menunjukkan perbedaan sikap dan keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan sikap dan keyakinan Syi’ah terhadap ke 4 sahabat utama yang menjabat sebagai Khulafaur Rasyidin secara berturut-turut .

    Per definisi, Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini keutamaan ke 4 sahabat utama dan juga mengakui keabsahan pemerintahan ke 4 Khulafaur Rasyidin tersebut. Sila lihat semua referensi sirah, tarikh, dan kitab-kitab ilmu kalam versi Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

    Sementara, Mazhab Syi’ah yang manapun , dari sekte Ghulats maupun Rafidhah yang ekstrim, sampai Syi’ah Imamiyah / Syi’ah Itsna Asyariyah, bahkan yg paling moderat sekalipun, semuanya berkeyakinan bahwa 3 sahabat utama (Abu Bakar R’A , Umar bin Khattab R’A dan Utsman bin Affan R’A) telah bersikap zhalim dan durhaka dengan merebut hak kepemimpinan ( imamah ) Ali bin Abi Thalib R’A.

    Sikap mereka bervariasi: dari yg paling lunak, menganggap ke-3 sahabat tersebut sebagai zhalim, sampai menganggap beliau bertiga telah kufur.

    Seumumnya secara generik, semua sekte Syi’ah amat sangat benci dan dendam terutama terhadap Amirul Mu’miniin Umar bin Khattab R’A. Sampai menggelari Abu Bakar R’A dan Umar bin Khattab R’A sebagai 2 (dua) berhala Quraisy.

    Padahal, di dalam NAHJUL BALAGHAH  (kumpulan wacana pidato dan surat-surat politik Imam Ali bin Abi Thalib R’A), justru Ali bin Abi Thalib R’A malah mengakui keabsahan pemerintahan ke-2 beliau tersebut di atas.

    Saya ingin mengutip pendapat Imam Ali bin Abi Thalib R’A di dalam NAHJUL BALAGHAH ketika Ali bin Abi Thalib R’A mendengar berita wafatnya Umar bin Khattab R’A :

    ” Alangkah bahagianya. Beliau telah meluruskan yang bengkok, mengobati sumber penyakit, mengakhiri masa kekacauan dan menegakkan Sunnah (Rasul). 

    Beliau wafat dalam keadaan bersih, tidak bercela, meraih kebaikan dunia dan selamat dari keburukan (dunia) itu. Memenuhi ketaatan kepada Rabb-Nya dan mencegah diri dari kemurkaan-Nya. “

    Cobalah cermati, betapa positifnya opini dan apresiasi Imam Ali bin Abi Thalib R’A terhadap Amirul Mu’miniin Umar bin Khattab R’A.

    Betapa berbeda jauh dengan sikap dan keyakinan kaum Syi’ah dari sekte yang mana pun. Jauh panggang dari api.

    Bahkan, Imam Ali pun mencela dan mengusir kaum yang mengaku Syi’ah dan pecinta Ahlul Bayt , karena sudah diberitahu dan dinubuatkan oleh Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam:

    [1] “Akan muncul sesudah aku tiada ( wafat ) , satu golongan yang mendapat julukan Rafidhah . Jika kamu mendapati mereka , perangilah mereka. Sebab mereka itu adalah musyrikin”.

    [Diriwayatkan di dalam Musnad Imam Ahmad, Ad Daaruquthniy, Alhaafizh Adz Dzahabiy].

    [2] Tanda-tanda mereka pun ditanyakan oleh Imam Ali bin Abi Thalib R’A kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. 

    Dijawab oleh  Baginda Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam :

    “Mereka seakan-akan mencintai Ahlul Bayt, padahal tidak demikian. Mereka itu suka mencaci maki dan mengumpat Abu Bakar dan Umar “.

    [Diriwayatkan oleh Ad Daaruquthniy].

    *Ringkas kata, penyimpangan dan penyelewengan kaum Syi’ah / Rafidhah / Sabaiyah tersebut, sudah dinubuatkan oleh Baginda Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam.

    Bahkan puncak kedurhakaan sekte Syi’ah yang disebut Ghulats adalah meyakini bahwa Malaikat Jibril ‘AS telah keliru dan salah menyampaikan Wahyu terakhir (baca : Al Qur’an Al Karim), yang seharusnya ditujukan dan diturunkan kepada Ali bin Abi Thalib, keliru disampaikan kepada Muhammad bin Abdullah, disebabkan persamaan air muka keduanya.

    Na’udzu bi-Llahi min dzalika. Alangkah keji dan sesatnya keyakinan mereka.

    * Semoga sharing ringkas ini bermanfaat.

    * Terakhir , sebagai bagian dari As Sabiqunal Awwalun pendiri AMKI sejak 2004 yang masih aktif sampai saat ini  (di samping mas Hermawan Kresno Dipojono, adalah pak MS Soelaeman, Ustadz Abdul Malik Usman UGM, pak Nirmolo Undip, mas Khaerul Saleh  Politeknik Semarang, kang Nana Unsil , dan saya di Salman ITB ), saya berdo’a dan berwasiat agar kita semua di AMKI terjauhkan dari kesesatan Syi’ah serta teguh menjalankan Islam   Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta menghormati dan mengikuti jejak 4 Khulafaur Rasyidin, agar selamat di dunia dan di akhirat.

    Salam takzim.

    Samsoe Basaroedin.

    ]]>