Materi Dakwah – AMKI https://amki.ac.id Asosiasi Masjid Kampus Indonesia Tue, 02 Feb 2021 07:25:58 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.6.17 https://amki.ac.id/wp-content/uploads/2018/03/cropped-1x1transparent-photo_2018-03-29_09-40-55-trcopy-32x32.png Materi Dakwah – AMKI https://amki.ac.id 32 32 OPTIMALISASI PERAN MASJID KAMPUS https://amki.ac.id/optimalisasi-peran-masjid-kampus/ Tue, 02 Feb 2021 07:22:24 +0000 https://amki.ac.id/?p=736 OPTIMALISASI PERAN MASJID KAMPUS DALAM PEMBINAAN CALON PEMIMPIN BANGSA: Studi Kasus Kaderisasi Masjid Salman ITB

]]>
Kumpulan Khutbah Jumat Satu Tahun untuk Masjid Kampus (Edisi 1) https://amki.ac.id/kumpulan-khutbah-jumat-satu-tahun-untuk-masjid-kampus-edisi-1/ Wed, 20 Jan 2021 14:26:40 +0000 https://amki.ac.id/?p=642 Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi 2012

]]>
Wakaf: Kesejahteraan, Dakwah dan Kemartabatan dalam Keabadian https://amki.ac.id/wakaf-kesejahteraan-dakwah-dan-kemartabatan-dalam-keabadian/ Wed, 20 Jan 2021 13:34:03 +0000 https://amki.ac.id/?p=630 Oleh: Muhammad Nuh

]]>
MENGAPA HARUS EKONOMI SYARIAH? https://amki.ac.id/mengapa-harus-ekonomi-syariah/ Wed, 20 Jan 2021 07:34:52 +0000 https://amki.ac.id/?p=609 Oleh: Samsoe Basaroedin

Abstrak

Di dunia modern ini selama lima dekade terakhir berlangsung perdebatan tak berkesudahan tentang apakah Sistem Ekonomi Islam benar-benar ada. Dunia modern menyaksikan bahwa hanya ada 2 narasi besar perekonomian dunia yaitu Sistem Kapitalisme dan Sistem Sosialisme. Bahkan perdebatan ada tidaknya Sistem Ekonomi Islam itu juga berlangsung sengit didalam kalangan internal Umat Islam sendiri. Oleh karena itu diperlukan sebuah tinjauan komprehensif tidak saja semata-mata dari sisi historis terhadap fakta-fakta sejarah namun juga diperlukan kajian mendasar dari aspek batang tubuh (body of knowledge) ajaran Islam itu sendiri terutama penelusuran dari teks asli Al-Qur’an maupun Sunnah Rasul. Dengan demikian kita akan memperoleh keyakinan yang positif mengenai keberadaan (eksistensi) Sistem Ekonomi Islam. Sekaligus untuk meyakinkan kita mengenai urgensi keadilan Sistem Ekonomi Islam dibandingkan kejahatan Sistem Kapitalisme yang telah mengakibatkan ketidakstabilan moneter perekonomian dunia saat ini.

PENDAHULUAN

Adakah Sistem Ekonomi Islam? Apakah Islam mengajarkan doktrin ekonomi yang signifikan berbeda dengan ke 2 narasi besar perekonomian dunia, baik Kapitalisme maupun Sosialisme? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini telah menjadi debat ilmiah tak berkesudahan sepanjang tiga dekade dari era 70-an sampai 90-an. Kini pun di era 2000-an jumlah PTN yang membuka Program Studi Ekonomi Islam tak lebih dari jumlah jari sebelah tangan. Di tambah yang diinisiasi oleh UIN atau IAIN juga tak lebih dari jumlah jari ke 2 belah tangan. Ironis sekali bukan?

SISTEM EKONOMI ISLAM

Jadi, adakah sesuatu yang khas Islam? Adakah paradigma yang membedakannya dengan Kapitalisme? Dengan Sosialisme? Abram Bergson dalam Productivity and The Social System, the USSR and The West’ mendefinisikan Sosialisme sebagai sistem kemasyarakatan yang didalamnya kepemilikan alat-alat produksi secara dominan dikuasai oleh negara. Sementara Kapitalisme dinyatakan sebagai sistem kemasyarakatan yang didalamnya kepemilikan alat-alat produksi bersifat campuran (antara milik swasta dengan milik negara) dengan kehadiran sektor swasta lebih substansial. Jadi, Kapitalisme memang berbeda bahkan berkebalikan dengan Sosialisme. Lalu, bagaimana halnya dengan sistem ekonomi Islam? Di dalam ‘Economics Teaching of Prophet Muhammad, A Select Anthology of Hadist Literature on Economics’, Muhammad Akram Khan menunjukkan paadigma kepemilikan yang khas Islami, melalui sebuah hadist shahih yang berasal dari kitab-kitab ‘Shahih Bukhari’, ‘Shahih Muslim’, dan ‘Sunan At Tirmidzi’. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah

1. – Disampaikan pada Seminar & Lokakarya Ekonomi Syariah di Fakultas Ekonomi UNISBA tanggal 29 Mei 2009
– Dimuat sebagai Main Article (Artikel Utama) pada Jurnal Business Review MBA-ITB Volume 3 No. 3, th. 2008
– Disampaikan pada Pelatihan Perbankan Syariah yang diselenggarakan oleh Laboratorium Manajemen Fakultas Ekonomi (LMFE) Universitas Padjadjaran di Bandung, 18 Juli 2007
2. – Peneliti di Lembaga Pengembangan Ekonomi dan Manajemen Syariah (LPES) Salman ITB, Staf Khusus Pembina YPM Salman ITB, Narasumber tetap acara dialog interaktif Ekonomi Islam di Radio KLCBS (Jum’at Malam) dan di Radio K Lite (Ahad Pagi).

SAW menyatakan : “Seluruh kaum muslimin bersyarikat (bersama-sama memiliki) tiga sumber daya, yaitu sumber daya air, sumber daya hutan, dan sumber daya api atau energi. Dan harganya Haram”.

Ada hadist shahih lain yang menyatakan bahwa yang bersyarikat memiliki 3 sumber daya tersebut adalah ‘seluruh manusia/rakyat’.Muhammad Akram Khan menamainya Hak Milik Umum atau Hak Milik Kolektif Rakyat. Jadi, bukan Hak Milik Negara, terlebih-lebih pastilah bukan Hak Milik Swasta atau Individu. Ini adalah paradigma kepemilikan yang unik, berbeda dengan kapitalisme. Juga, berbeda dengan Sosialisme. Dengan perkataan lain, Sistem Ekonomi Islam memang betul-betul ada, nyata dan kongkrit. Kalaulah realita menunjukkan belum ada satu negara pun di dunia kiwari yang menerapkannya, itu adalah satu persoalan lain. Dalam konteks berbangsa dan bernegara di dunia modern kini, diperlukan semacam kontrak sosial melalui proses legislasi (taqnin) menuju pemberlakuan Sistem Ekonomi Islam di dalam kebijakan negara, dalam wadah masyarakat majemuk (multikultural).

Dalam konteks Indonesia kini, tampak kecenderungan menguatnya kebijakan privatisasi atau swastanisasi BUMN sejalan dengan arus globalisasi Kapitalisme neo Liberal. Beberapa BUMN yang justru sebenarnya tergolong Hak Milik Kolektif Rakyat dalam Sistem Ekonomi Islam, atau dalam rumusan Bung Hatta di pasal 33 ayat 2 dan ayat 3 UUD 1945 dikatagorikan sebagai cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak, sehingga harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat – diprivatisasi atau diswastakan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Kekonyolan pengkhianatan ini mencapai puncaknya ketika BUMN Indosat diprivatisasi ke tangan swasta asing milik Singapura. Inilah tragedi nasional yang sangat merugikan rakyat dan tumpah darah Indonesia. Sebuah pengkhianatan yang sulit kita maafkan.

KEPEMILIKAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Al-Qur’an Al-Karim, mengajarkan bahwa segala sesuatu di langit dan di bumi adalah milik / kepunyaan Allah SWT. “Kepunyaan Allah-lah segala sesuatu yang ada di langit dan segala sesuatu yang ada di bumi” (Al-Qur’an, surah Al-Baqarah ayat 284). Jelaslah bahwa segala sesuatu di alam semesta ini adalah mutlak milik Allah SWT. Sejalan dengan itu, nalarpun mengajarkan bahwa asal-usul hak kepemilikan sesuatu benda adalah berasal dari si pencipta benda tersebut. Allah SWT adalah Sang Maha Pencipta alam semesta, sehingga dengan sendirinya alam semesta mutlak milik-Nya. Kemudian Allah limpahkan berbagai jenis rizqi kepada manusia sebagai karunia sekaligus amanah, yang kelak harus dipertanggungjawabkannya di pengadilan akhirat di hadirat-Nya. Dengan sendirinya, pada hakikatnya kepemilikan manusia bersifat nisbi atau relatif. Ia merupakan amanah dari Allah SWT. Namun, sekalipun nisbi, Islam mengajarkan bahwa kepemilikan manusia tersebut bersifat sakral / suci. Sedemikian sehingga seseorang yang mati dalam rangka mempertahankan hak miliknya dari jarahan seorang perampok, dinyatakan berstatus mati syahid.

MENUJU DEFINISI SISTEM EKONOMI ISLAM

Syaikh Taqyuddin An-Nabhani, di dalam “An-Nizham Al-Iqtishadi fi Al-Islam”, menyimpulkan bahwa Islam mengakui dan mengajarkan 3 jenis kepemilikan yaitu : Kepemilikan individu / pribadi / swasta, kepemilikan kolektif / publik / rakyat, dan kepemilikan negara. Ketiga jenis kepemilikan ini diatur oleh Sunnah Rasul secara rinci dan seimbang, dalam suatu tatanan masyarakat yang adil dan beradab.

Dengan merujuk kepada definisi Kapitalisme dan Sosialisme yang disusun oleh Abram Bergson, penulis mengajukan batasan Sistem Ekonomi Islam sebagai suatu sistem kemasyarakatan yang kepemilikan alat-alat produksi di dalamnya di atur secara seimbang dan adil oleh Al-Qur’an dan Sunnah Rasul menjadi 3 jenis kepemilikan yaitu : kepemilikan individu, kepemilikan kolektif rakyat, dan kepemilikan negara.

Pelaksanaan Sistem Ekonomi Islam secara utuh di dalam suatu tatanan kenegaraan bisa kita lihat di dalam periode kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW dan Khulafa-ur- Rasyidin di dalam Negara Madinah.

KEADILAN

Selain istilah Sistem Ekonomi Islam, dipakai juga istilah Sistem Ekonomi Syariah. Kerapkali dipakai istilah lain yang lebih generik, yaitu Sistem Ekonomi Berkeadilan. Keadilan adalah fondasi dan pilar utama rancang bangun Sistem Ekonomi Islam. Di dalam Al-Hisbah fi al-Islam’, Syaikh Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa keadilan adalah aturan main dalam segala urusan tanpa kecuali. Ketika urusan dunia ditegakkan dengan keadilan, tegaklah dunia itu, meskipun penghuninya kafir dan di akhirat tidak akan memperoleh apapun. Sebaliknya, jika tidak ditegakkan dengan keadilan, hancurlah dunia itu, meskipun penghuninya beriman dan dapat memperoleh pahala akhirat dari imannya. Jadi wujud kongkrit dari pelaksanaan Sistem Ekonomi Islam adalah tegaknya keadilan dalam segenap aspek, dari hulu sampai ke hilir, dalam produksi, distribusi maupun konsumsi. Dalam setiap transaksi bisnis, dalam setiap jenis investasi, dalam setiap akad perjanjian kerjasama bisnis.

Sejalan dengan itu, Syaikh Abul A’la Al-Maududi pun menyimpulkan bahwa sokoguru dari Sistem Ekonomi Islam terkandung di dalam kalimat sederhana yang universal ini :

“agar harta itu jangan hanya beredar di kalangan orang-orang kaya saja di antara kalian” (Al- Qur’an, surah Al-Hasyr ayat 7-8)

Pada gilirannya, ini akan menggerakkan sektor riil, menumbuhkembangkan sektor perdagangan, memacu investasi, membuka lebar-lebar berbagai jenis lapangan pekerjaan, dan pada akhirnya menguatkan fundamental perekonomian negara.

PRAKTEK KAPITALISME SEBAGAI ADIKUASA PEREKONOMIAN DUNIA

Julian Hochfeld, seorang sosiolog Polandia, pernah menyatakan bahwa ada tiga cara pandang terhadap Kapitalisme yaitu : wujud Kapitalisme sebagai ‘cara produksi’, wujudnya sebagai ‘kerangka sosioekonomi’, dan wujudnya sebagai ‘mentalitas’.

Bagaimana cara Kapitalisme dalam wujud ‘cara produksi’ dan ‘kerangka sosioekonomi’ menggurita menguasai perekonomian dunia khususnya negeri-negeri Selatan diuraikan oleh John Kenneth Galbraith sejak 50 tahun yang lalu melalui tiga buku yang fenomenal : 1. The Affluent Society, 2. The New Industrial State, dan 3. Economic and The Public Purpose.

Pada garis besarnya beliau gambarkan sebuah skenario sistematik untuk menjajah perekonomian negeri-negeri Selatan pada khususnya. Garis besar skenario tersebut dapat diuraikan secara ringkas sebagai berikut :

Menurut beliau perusahaan-perusahaan yang akan tumbuh pesat bukanlah perusahaan- perusahaan kecil, melainkan perusahaan-perusahaan ‘raksasa’ (giant corporation) atau disebut juga perusahaan-perusahaan ‘konglomerat’ (conglomerate corporation). Mengingat besarnya jumlah modal yang ditanamkan, perusahaan-perusahaan ‘konglomerat’ tersebut niscaya berusaha menguasai jaringan perekonomian dari hulu sampai ke hilir melalui aksi- aksi monopoli, oligopoli dan atau kartel. Pada arah ke hulu setiap perusahaan konglomerat akan berusaha melakukan integrasi agar semua pasokan material berjalan lancar, sementara ke hilir mereka akan menggarap consumers agar produk-produknya senantiasa terserap pasar. Dalam perspektif perusahaan ‘konglomerat’, setiap pemerintah negeri-negeri Selatan diposisikan sebagai mitra penyedia infrastruktur. Sementara setiap lembaga pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, diposisikan sebagai lembaga mitra penyedia technocrat (tenaga ahli). Akhirnya dengan dalih kepentingan publik (public interest), pemerintah-pemerintah  dan lembaga-lembaga pendidikan tinggi di negeri-negeri Selatan diatur-atur oleh perusahaan ‘konglomerat’, sehingga alih-alih sebagai mitra seluruh pemerintah dan lembaga pendidikan tinggi tersebut diperlakukan sebagai budak oleh perusahaan ‘konglomerat’. Skenario tersebut di atas ternyata berjalan dengan sangat mulus di semua negeri-negeri Selatan selama 50 tahun paruh terakhir abad 20 Masehi.

JEBAKAN KAPITALISME MELALUI MATA UANG HAMPA

Sejarah mata uang selama ribuan tahun berhasil direkayasa secara luar biasa selama satu abad terakhir oleh Sistem Kapitalisme menjadi alat penjajahan yang luar biasa efektif melalui penciptaan mata uang hampa (fiat money). Sejak semula di zaman Yunani kuno pertumbuhan mata uang dari era barter menuju uang komoditas, kemudian berlanjut ke era uang kartal, senantiasa mensyaratkan bahwa setiap mata uang harus secara mutlak benar- benar bernilai intrinsik. Artinya pada dirinya sendiri, sekurang-kurangnya dari sisi bahan baku, setiap mata uang benar-benar bernilai sepadan dengan nilai nominal yang tertulis. Dengan demikian nilai setiap mata uang dijamin secara mutlak oleh dirinya sendiri. Hal itu mula-mula diwujudkan dengan bahan baku logam mulia yaitu emas dan perak. Bahkan dalam buku induk sosiologi, yaitu kitab Muqaddimah, Ibnu Khaldun meyakini bahwa Allah sengaja menciptakan dua logam mulia itu sebagai alat pengukur nilai bagi setiap komoditas. Sejarah tersebut mulai bergeser, ketika Sistem Kapitalisme menciptakan uang kertas substitusi, yang pengadaannya dijamin seratus persen oleh jaminan emas. Namun dalam perkembangan lebih lanjut uang kertas substitusi tersebut kemudian digeser oleh mata uang kertas hampa (fiat money) yang hanya semata-mata dijamin oleh tandatangan otoritas moneter. Nilai tukar mata uang hampa hanya ditentukan oleh kepercayaan pasar terhadap otoritas moneter. Jadi semata- mata lebih berdasarkan sentimen pasar tanpa adanya dukungan nilai intrinsik emas. Kondisi ini membuka lebar-lebar pintu spekulasi bagi para pelaku pasar khususnya para fun manager di berbagai bursa valuta asing. Dalam kacamata Islam ini berarti membuka pintu dosa tiga jenis kemaksiatan sekaligus yaitu perjudian + gharar + riba fadl. Dari sinilah berawal perjudian besar-besaran di seluruh pelosok dunia dalam bentuk mencari marjin fluktuasi naik turunnya nilai valuta asing. Dan dari sini jugalah bermuara semua gonjang ganjing ketidakstabilan moneter dunia. Inilah wujud merajalelanya kapitalisme sebagai mentalitas. Bahkan A. Riawan Amin, ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO) menyimpulkannya sebagai Satanic Finance (Keuangan Setan) sebagaimana tertera dalam buku yang beliau tulis satu tahun yang lalu.

Bahkan kondisi ini diperparah lagi oleh keserakahan para pelaku pasar dalam bidang keuangan melalui penciptaan berbagai instrumen derivatif, semisal commercial papers, mortgage back securities, short selling, credit default swaps (CDS), dan lain-lain, yang kesemuanya mendorong terbukanya pintu spekulasi secara besar-besaran. Tujuh tahun lalu, Warren Buffett, chairman Berkshire Hathaway, orang terkaya di dunia pada tahun 2007 sudah menyatakan : “Derivatif adalah senjata pemusnah massal keuangan. Saya tidak tahu kapan akan meledak, tapi suatu hari kelak pasti akan meledak.” Apa yang beliau ramalkan itu sudah terjadi selama dua tahun terakhir dalam bentuk depresi ekonomi dunia. Berawal dari gagal bayarnya kredit perumahan yang tidak layak, subprime mortgage, kemudian berlanjut ke semua sektor ekonomi. Malangnya tidak ada satupun pakar keuangan dunia saat ini yang bisa memprediksi kapan krisis ini akan berakhir.

JAWABAN KITA TERHADAP TANTANGAN KAPITALISME GLOBAL

Cukup banyak pemikir, ulama ataupun gerakan Islam yang menggambarkan respon ideal yang seyogyanya dilakukan oleh kaum Muslimin secara komprehensif dan mondial. Pada umumnya dinyatakan bahwa kita harus back to basic dengan mengikuti jejak Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin, yaitu dengan mewujudkan kembali Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah Internasional. Dari sanalah semua aksi tandingan untuk melawan kejahatan Sistem Kapitalisme bisa dilakukan secara terpadu. Namun bagi sebagian kaum muslimin ide tersebut dianggap terlalu idealistik dan kurang membumi. Bagi kalangan terakhir ini revitalisasi konfederasi yang sudah terwujud misalnya saja dalam bentuk Organisasi Konferensi Islam (OKI) terasa lebih realistis. Bahkan pada tingkat Negara Bangsa (Nation State) di masing- masing negeri kaum Muslimin, dari Maroko di Barat sampai Merauke di Timur, diperlukan perjuangan politik berupa usaha legislasi pemberlakuan Sistem Ekonomi Islam melalui peraturan perundangan masing-masing negeri. Jelaslah bahwa jalan masih panjang. Dibutuhkan perjuangan kita seluruh komponen umat Islam terus menerus untuk mewujudkan Sistem Ekonomi Islam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

HIJRAH MENUJU SISTEM EKONOMI SYARIAH

Masalahnya sekarang, apakah kita harus menunggu hasil perjuangan politik berupa legislasi pemberlakuan Sistem Ekonomi Islam melalui peraturan perundangan? Tanpa menunggu jawaban positif terhadap pertanyaan ini – yang bisa jadi malah memicu kontroversi tersendiri – pada hemat saya, kita semua masing-masing bisa bertindak memberikan kontribusi positif. Yaitu dengan cara berhijrah dari sistem ekonomi konvensional yang kapitalistik menuju praktek ekonomi syariah yang adil. Dalam posisi apapun, kita masing-masing bisa melakukan hijrah al-qulub wa al-jawarih, menghijrahkan pusat kesadaran dan organ tubuh kita, dari praktek ekonomi dan bisnis yang kapitalistik, hedonistik, monopolostik,serakah dan kolutif, menuju praksis ekonomi dan bisnis yang lebih adil, beretika, beradab dan lebih manusiawi. Kongkritnya, pilihlah mata pencaharian dan bisnis yang betul-betul halal. Pilihlah makanan, minuman, obat dan kosmetik yang betul- betul halal dan thayyib. Pindahkan semua rekening deposito, giro dan tabungan, dari bank konvensional ke bank Syariah. Hanya berasuransi di lembaga asuransi Syariah. Bila akan berinvestasi belilah saham-saham perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII).

Jauhi semua praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Jauhi semua praktek monopoli, oligopoli dan kartel. Jauhi semua praktek gharar, spekulasi dan perjudian. Jauhi semua praktek kecurangan dan penipuan bisnis, baik dalam kuantitas, kualitas, harga barang, maupun waktu penyerahan barang. Bertindaklah profesional dan transparan dalam setiap urusan bisnis. Berlakulah seadil-adilnya terhadap semua stakeholder dan mitra bisnis. Pendek kata, jadilah pebisnis muslim yang adil, yang menjadi Rahmat bagi Semesta Alam. Insya Allah, setapak demi setapak, Sistem Ekonomi Islam akan maujud di tengah-tengah kita semua.

Amin, Amin ya Rabb al-’alamin.

Daftar Pustaka

An Nabhani, Taqiyudin, 2002, Mencari Sistem Ekonomi Alternatif, Risalah Gusti, Surabaya.

Amin, A. Riawan, 2007, Satanic Finance : True Conspiracies, Cetakan Kedua, PT. Senayan Abadi Publishing, Jakarta.

Hamidi, M. Lutfi, 2003, Jejak-jejak Ekonomi Syariah, Cetakan Kedua, PT. Senayan Abadi Publishing, Jakarta.

Khan, M. Akram, 1996, Economic Teaching of Prophet Mohammed : A Select Anthology of Hadith Literature on Economics, PT. BMI, Jakarta.

Meera, Ahamed Kameel Mydin, 2004, The Theft of Nations: Returning to Gold, Pelanduk Publication (M) Sdn Bhd, Kuala Lumpur.

Taimiyah, Ibnu, 2004, Tugas Negara Menurut Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Riwayat Hidup

Samsoe Basaroedin, dilahirkan di Sidoarjo pada tanggal 15 April 1956 M, bertepatan dengan tanggal 4 Ramadhan 1375 H. Tumbuhkembang di lingkungan keluarga jawa beraliran kejawen yang sinkretis. Menempuh pendidikan sekuler di sekolah-sekolah negeri, namun justru memperoleh pencerahan hidayah taufiq di kampus ITB. Setelah mengikuti Latihan Mujahid Dakwah Angkatan ke-40 di Masjid Salman ITB pada bulan Oktober 1979, dia berhijrah menuju kajian keislaman. Sejak tahun 1990-an dia fokus otodidak mendalami 2 bidang kajian : ekonomi Islam dan psikologi Islam. Hasil kerjanya dalam psikologi Islam diapresiasi luar biasa dan dimuat dalam buku teks “Psikologi Pertumbuhan” (terbitan ROSDA, th.2008), disejajarkan dengan tokoh-tokoh psikologi tingkat dunia, semisal Abraham Maslow, Carl Gustaf Jung, Victor Frankl. Dalam bidang ekonomi Islam, menjadi salah seorang tim penyusun Rancangan Undang-undang Pengelolaan Zakat, tahun 1999.

]]>
Spiritual Leadership Menurut Orang Awam https://amki.ac.id/spiritual-leadership-menurut-orang-awam/ Tue, 19 Jan 2021 14:51:18 +0000 https://amki.ac.id/?p=592 Hermawan Kresna Dipojono

  1. PENGANTAR

Permintaan panitia kepada saya untuk berbicara mengenai Spiritual Leadership ini menjadi dilema: tidak mungkin menolak karena ini merupakan program dari AMKI Wilayah (artinya bagian dari organisasi yang saya mendapat amanah untuk memimpin- nya) namun topik ini secara teori sungguh sangat jauh dari bidang yang saya geluti. Itu sebabnya tulisan ini saya beri judul Spiritual Leadership Menurut Orang Awam. Saya beruntung tidak diberi judul spesifik oleh panitia. Kalau pada akhirnya saya pu- tuskan menerimanya adalah karena pertama sebagai apresiasi kepada Pengurus AMKI Wilayah Sulsel, dan kedua karena ada Google yang mempermudah penelusuran tentang topik ini. Ternyata sungguh tidak mudah karena googling dengan kata kunci spiritual leadership akan menghasilkan ratusan (mungkin ribuan) artikel; tidak mungkin saya membaca seluruh artikel itu, dan juga saya tidak tahu di antara itu semua mana yang dapat dipercaya. Harus ada alat penapis lain yang agak canggih agar saya terbantu untuk menyeleksinya. Pilihan saya jatuh pada pangkalan data Scopus. Nyaris setali tiga uang, dengan menggunakan kata kunci yang sama diperoleh angka 1313 artikel per tanggal 18 Agustus 2020; masih cukup banyak walau kini sudah lebih berbobot ilmiah. Terpaksa ditapis lebih lanjut dengan membatasi pada artikel dengan judul ek- splisit ada kata spiritual leadership dan diperoleh artikel sebanyak 239 judul. Langkah berikutnya adalah memilih artikel yang paling banyak di sitasi; artinya artikel ini sekurang-kurangnya merupakan pembentuk madzhab spiritual leadership. Saya pilih dua yang teratas, dua artikel yang paling banyak disitasi oleh akademisi. Pertama, Louis W. Fry, Toward a theory of spiritual leadership, The Leadership Quaterly 14 (2003) 693-727 [1], dengan jumlah sitasi 732. Kedua, Louis W. Fry, Steve Vitucci,

Disampaikan dalam Webinar Nasional Spiritual Leadership yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah AMKI Sulawesi Selatan 22 Agustus 2020 pkl 09:00 WITA
Ketua Umum Asosiasi Masjid Kampus Indonesia, Ketua Pembina Yayasan Pembina Masjid Salman ITB, Ketua Senat Akademik ITB, Guru Besar ITB, Ketua Laboratorium Computational Materials Design and Quantum Engineering Fakultas Teknologi Industri ITB.

Marie Cedillo, Spiritual leadership and army transformation: Theory, measurement, and establishing a baseline, The Leadership Quarterly 16 (2005) 835-862 [2], dengan jumlah sitasi 231. Selanjutnya kalau ditelusuri lebih lanjut ternyata artikel tertua tentang spiritual leadership di Scopus bertahun 1991 yaitu Hatcher, M., Transforma- tional dan Spiritual Leadership, Journal of Holistic Nursing 9(1) (1991) pp. 65-80 [3]. Walaupun artikel ini merupakan yang tertua mengenai spiritual leadership di Scopus namun hanya memperoleh sebuah sitasi saja. Mungkin karena terbit di jurnal yang kurang bergengsi sehingga tidak menarik perhatian. Sedangkan Jurnal The Leader- ship Quarterly adalah jurnal yang amat bergengsi, istilah akademiknya adalah jurnal internasional bereputasi dengan quartil indeks Q1. Spiritual leadership ini hingga saat ini (2020) masih menjadi topik penelitian yang sangat aktif. Hal ini terlihat  dari masih banyaknya publikasi ilmiah dengan topik ini; tercatat di Scopus di tahun 2020 per Agustus ada sebanyak 27 publikasi yang di judulnya terdapat kata spiri- tual leadership. Topik ini terbit di jurnal-jurnal mengenai manajemen, kepemimpinan (leadership), bisnis, psikologi, pendidikan, keperawatan, bahkan juga teknologi dan rekayasa. Melihat luasnya cakupan studi di bidang ini maka terbuka luas kesempatan bagi para peneliti atau dosen yang menekuni bidang ini mempunyai peluang cukup tinggi menghasilkan publikasi bergengsi. Terlihat dengan jelas bahwa spiritual leader- ship merupakan salah satu kajian ilmiah dengan metodologi keilmuannya yang sudah mapan. Jadi tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membahas topik ini secara tun- tas (rigor) dengan memenuhi tuntutan metodologinya tetapi sekedar membahas secara sepintas, populer, dan berasal dari orang awam, bukan penekun bidang ini. Meskipun demikian penulis tulisan singkat ini sungguh mendapatkan manfaat yang amat banyak dari literatur yang terpaksa harus dibacanya. Hikmah adanya permintaan ceramah ini bagi saya adalah terpaksa melakukan penelitian kilat dan membaca dengan cepat. Jadi metoda yang saya gunakan dalam membahas topik ini sangat dipengaruhi oleh kedua publikasi bagus mengenai topik ini, melengkapi bacaan saya dari buku Prof. Dr. Tobroni [4] pakar mengenai hal ini di Indonesia. Perlu juga saya sampaikan di sini bahwa bagi para pemula dan ingin segera menggunakan dalam kehidupan praktis konsep, buku mengenai spiritual leadership karangan Prof. Tobroni sudah lebih dari cukup dan sangat memadai. Hanya karena rasa ingin tahu saja yang menyebabkan saya secepat mungkin (karena keterbatasan waktu) menelusuri berbagai literatur dunia mengenai topik ini. Tulisan singkat ini akan memulainya dengan membahas landasan teoretis populer, nilai-nilai Islami dalam konsep spiritual leadership, relevansi spiritual leadership untuk organisasi kemasjidan, dan kesimpulan.

  1. LANDASAN TEORETIS POPULER

Membahas spiritual leadership, meskipun hanya sepintas, tidak mungkin tanpa membahas mengenai leadership, spirituality dan religiosity. Yang terakhir terpaksa dimasukkan karena spirituality dalam berbagai pembahasan mengenai spiritual leadership mempunyai pengertian yang dibedakan dengan religiosity tersebut. Makalah singkat ini hanya akan membahas masing- masingnya secara sepintas saja, sekedar untuk melengkapi pembahasan spiritual  leadership.  Perlu disampaikan   di sini artikel-artikel mengenai ketiganya, baik sendiri-sendiri maupun hubungan yang kompleks antar ketiga entitas ini tersedia amat berlimpah di berbagai jurnal internasional bergengsi dan masih akan terus bertambah dengan cepat.

Leadership atau kepemimpinan merupakan suatu konsep yang masih terus diteliti dan dikembangkan meskipun jumlah artikel yang telah mengupas dan membahasnya di Scopus telah mencapai 52794 per Agustus 2020. Bagi para peminat serius untuk mempelajari berbagai teori dan perkembangan penelitian mengenai leadership, artikel review Dinh et. al mengenai kecenderungan teoretik dan perubahan perspektif leadership  [5] dapat menjadi langkah awal  yang baik.  Artikel ini melaporkan  hasil review kualitatif yang amat ekstensif mengenai berbagai teori leadership yang diterbitkan di 10 top-tier jurnal diantaranya The Leadership Quarterly, Adminstrative Science Quarterly, American Psychologist,  Journal  of  Management,  Academy of Management Journal, Academy of Management Review, Journal of Applied Psychology, Organizational Behavior and Human Decision Processes, Organizational Science, and Personal Psychology. Kemudian artikel ini mengkombinasikan dua kerangka kerja teoretis yang ada, Gardner et. al [7] dan Lord et. al [8], untuk menyediakan sebuah kerangka kerja yang berorientasi keproses yang menekankan pada baik bentuk-bentuk maupun tingkatan analisis yang sangat diperlukan untuk mengintegrasikan berbagai teori leadership. Akhirnya artikel ini mendeskripsikan hasil temuannya untuk keperluan riset dan teori leadership masa depan. Sedangkan artikel klasik mengenai leadership yang paling banyak di sitasi (2913 per Agustus 2020),  dan mungkin menjadi madzhab,  adalah artikel oleh Graen dan Uhl-Bien  [6]. Artikel ini menggunakan sebuah perspektif tingkatan (levels) untuk menelusuri pembangunan teori LMX (Leader-Member Exchange) melalui empat tahap evolusi dan menyelidikinya hingga 1995, saat artikel ini terbit. Karya Graen dan Uhl-Bien ini juga menggunakan sebuah perspektif domain untuk mengembangkan sebuah taksonomi baru sebagai hampiran leadership dan LMX dibahas dalam taksonomi tersebut sebagai sebuah hampiran berbasis relasi terhadap leadership. Domain leadershi menurut Graen terdiri atas Pengikut, Pemimpin, dan Relasinya (Follower, Leader, Relationship).

Tabel 1 menunjukkan hampiran tiga domain terhadap leadership.

Spirituality atau spiritualitas maupun religiosity atau religiusitas merupakan suatu konsep yang rumit dan dapat ditinjau atau dianalisis dari berbagai sudut pandang dengan hasil yang juga dapat beraneka ragam. Ilmu- ilmu kognitif dan psikologi, misalnya menawarkan hasil analisis yang bisa jadi berbeda dengan ilmu manajemen, ilmu jiwa, atau ilmu-ilmu keagamaan. Meskipun demikian ada juga irisan kesamaan dasar tentang konsep-konsep ini. Spirituality atau spiritualitas dapat didefinisikan, diantaranya sebagai cara seseorang untuk mengekspresikan atau mencari makna dan tujuan dan jalan dia merasakan adanya keterkaitan dirinya dengan waktu, orang lain, alam, dan sesuatu yang sakral. Jika spiritualitas itu merupakan dimensi kepribadian, maka religiosity atau religiusitas itulah yang memungkinkan konseptualisasi atau ekspresi dari spiritualitas itu, lihat misal di [9–11]. Tobroni menjelaskan bahwa dalam perspektif agama-agama, dimensi spiritualitas senantiasa berkaitan secara langsung dengan realitas Tuhan, Ilahi, Tuhan Yang Maha Esa, dan makna spiritualitas akan bermuara kepada kehakikian, keabadian, dan ruh; bukan yang sifatnya sementara [4]. Dari berbagai teori yang ada mengenai spiritualitas dan religiusitas dapat diringkas bahwa spiritualitas itu menyangkut keyakinan (faith) kepada yang gaib, sakral, makna, maksud dan tujuan hidup, sedangkan religiusitas berkaitan dengan syariat agama, jalan mewujudkan spiritualitas itu.

Definisi mengenai spiritual leadership yang cukup eksplisit, menjelaskan dirinya dengan cukup gamblang diantaranya diberikan oleh Fry ”Spiritual leadership theory (SLT) is a causal leadership theory for organizational transformation designed to create an intrinsically motivated, learning organization” [1]. Teori ini sengaja dirancang untuk organisasi yang ingin melakukan transformasi agar mampu membangun motivasi dari dalam dirinya, siap belajar agar transformasi itu terus berlangsung dan berhasil. Selanjutnya disebutkan bahwa SL ini mempunyai komponen-komponen yang terdiri atas nilai-nilai (values), sikap (attitudes), dan pola tingkah-laku (behaviors) yang amat diperlukan untuk memotivasi diri sendiri maupun orang lain dalam rangka membangun rasa kelangsungan hidup spiritual melalui ajakan kebersamaan. Atau dengan kata lain, mengalami dan merasakan adanya makna dalam kehidupan, mempunyai rasa membuat suatu perbedaan, dan rasa dipahami dan diapresiasi. Dampak dari SL dalam membangun rasa pemimpin dan yang dipimpin mengenai kelangsungan hidup spiritual itu adalah terciptanya keselarasan nilai di seluruh lini strategik, baik di tingkat invidual maupun tim yang pada akhirnya berkembang ke tingkat yang lebih tinggi (organisasi) berupa komitmen, produktivitas, dan kesejahteraan karyawan. Tabel 2 memberikan kualitas-kualitas dari spiritual leadership yang ditawarkan oleh Fry et. al. Spiritual leadership dengan demikian memerlukan:

  • visi yang dengan itu anggota organisasi mengalami suatu perasaan terpanggil agar hidupnya mempunyai makna dan dapat membuat perbedaan
  • budaya organisasi berbasis pada kecintaan untuk memberi di mana pemimpin dan yang dipimpin mempunyai ketulusan perhatian, penghargaan baik untuk dirinya maupun kepada yang lain sehingga akan menghasilkan kebersamaan, rasa memiliki, dan merasa dipahami serta dihargai.
  1. NILAI-NILAI ISLAM DALAM SPIRITUAL LEADERSHIP

Dari definisinya nilai-nilai Islam sekaligus mencakup aspek spiritualitas dan religiusitas, ada aqidah dan syariat. Yang dimaksud nilai-nilai Islam di sini adalah ajaran, pesan-pesan yang diberikan oleh Al-Qur’an yang kemudian diteladankan secara sempurna perwujudannya dalam hidup dan kehidupan Rasulullah Muhammad SAW. Jadi wujud nyata dari spiritualitas dan religiusitas itu secara sempurna diteladankan oleh Rasulullah, baik sebagai individu maupun sebagai pemimpin, rumah tangga maupun ummat dan ini semua terekam dengan sangat rinci dalam dokumen-dokumen tertulis sehingga tidak dapat diragukan otentisitasnya. Walaupun kepemimpinan Rasulullah SAW sepenuhnya bersifat nubuwwah namun tidak diragukan lagi di dalamnya terkandung atau mempunyai semua elemen-elemen spiritual leadership. Tentu pola, hampiran, teori, wujud sehari-hari kepemimpinan Rasulullah melampui (beyond) atau tidak hanya sekedar spiritual leadership dengan tiga domainnya itu karena sekurang-kurangnya ada domain ke-empat, yaitu menghadirkan Allah SWT.

Semua kualitas spiritual leadership secara sempurna dimiliki dan dipraktekkan, dan bahkan ditiru dengan sangat antusias oleh para pengikut setia Rasulullah SAW hingga akhir zaman. Visi yang ditawarkan oleh Al-Qur’an yang dengan sangat riil diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW adalah kehidupan dunia akherat yang sejahtera. Walaupun sangat abstrak namun kepulangan yang disambut secara khusus oleh Allah SWT dengan salamNya:

(Kepada mereka dikatakan):”Salam” sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. (Yasin[36]: 58)

menjadi impian dan dambaan tidak saja bagi para sahabat Beliau namun juga bagi para pengikut setianya hingga akhri zaman. Sedemikian indah dan kuatnya karakter Rasulullah SAW sehingga sesuatu yang abstrak, seperti surga dan neraka, itu nampak dengan sangat jelas oleh para sahabat sebagai sesuatu yang riil, nampak nyata dan dekat. Panggilan ajakan kepada surga selalu mendapat jawaban yang sangat antusias

dari para sahabat; tidak peduli apa bentuk ajakan itu: ada dalam bentuk membelan- jakan harta, jihad fisabillah menuju medan perang, dipersaudarakan, selalu disambut dengan gembira dan antusias. Semangat nya adalah ”Kami dengar dan kami taati”. Jadi trust/loyalty bukan hanya sekedar wacana, slogan, atau lips service. Rasulul- lah SAW selalu mencontohkan atau meneladankan kepada para sahabatnya standard kualitas prima, baik yang fisikal apalagi yang spiritual. Semua kualitas dalam kelom- pok visi, melewati batas ruang dan waktu, menjadi sangat jelas, terang benderang seterang siang hari bolong. Mengenai hope/faith dengan sangat indah diberikan oleh Rasulullah SAW pada saat Beliau beserta membangun parit, sebagai persiapan perang Khandaq. Disaat yang amat kritis bagi komunitas awal ummat, dalam suasana antara hidup dan mati, Beliau menyampaikan kepada para sahabatnya bahwa mereka akan mewarisi Parsi dan Romawi.

Mengenai hadirnya atmosfir memberi perhatian tentang kesejahteraan antar sesamanya, persaudaraan sejati yang melampui batas-batas hubungan sedarah, ke- maafan, empati, kejujuran dan kualitas-kualitas dalam kelompok altrusitic love benar- benar menjadi realitas kehidupan sehari-hari dalam komunitas awal Rasulullah dan para sahabatnya; itu semua bukan slogan, konsep, atau wacana. Penaklukan Mekkah yang diikuti dengan pengampunan dan pemaafan masif kepada seluruh penghuni Mekkah yang pernah menganiaya dan mengusir Rasulullah SAW merupakan ekspresi maksimal dari altruistic love dalam model spiritual leadership dari Fry [1]. Masyarakat egaliter, tidak ada strata sosial, menderita dan sejahtera bersama benar-benar ter- pelihara bahkan hingga komunitas ini telah menguasai aset dan kekayaan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Semua mendapatkan haknya secara adil dan tidak ada sat- upun yang teraniaya, bahkan hak untuk menuntut balas kepada Rasulullah SAW pun tersedia. Kisah yang mengharukan siapapun mengenai hal ini terekam dengan sem- purna hingga saat ini.

  1. RELEVANSI SPIRITUAL LEADERSHIP UNTUK ORGANISASI KE- MASJIDAN

Organisasi kemasjidan, khususnya untuk Asosiasi Masjid Kampus, adalah organ- isasi lillahi ta’ala, dalam arti bahwa organisasi ini tidak dapat (dan tidak akan pernah) menjanjikan hal-hal yang bersifat duniawi-material kepada para pengurusnya. Organ- isasi ini juga tidak akan pernah menjadi kendaraan politik bagi para pengurusnya karena memang bukan untuk ini tujuan didirikannya. Meskipun demikian organisasi ini menuntut pengelolaan yang profesional dan mengikuti kaedah-kaedah organisasi modern. Dalam bahasa Tobroni [4], organisasi kemasjidan masuk dalam kelompok

noble industry or organization dengan noble cause. Mungkin model kepemimpinan spiritual ini dapat menjembatani antara lillahi ta’ala di satu sisi dan tuntutan pen- gelolaan organisasi modern di sisi yang lain.

Visi akherat menjadi luar biasa pentingnya bagi para pengurus organisasi kemasji- dan. Dengan visi ini yang kuat diharapkan selalu dapat dibangkitkan energi dari dalam diri secara berkelanjutan. Energi yang sangat besar diperlukan untuk mengelola or- ganisasi nasional dengan wilayah yang amat luas, padahal sumber daya organisasi yang tersedia amatlah terbatas. Artinya kejuangan via pengorbanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam organisasi seperti ini. Kualitas-kualitas kepemimpinan spiri- tual menjadi sangat diperlukan. Di ujung dari semua itu, menghadirkan Allah SWT menjadi harapan akhir sekaligus langkah awal yang amat diperlukan. Bahwa khusnul khotimah disebut dalam hymne Asosiasi Masjid Kampus Indonesia tentu bukan suatu kebetulan.

Kita sangat bersyukur bahwa hidup dan kehidupan Rasulullah SAW itu sejak awal telah dipilih untuk menjadi teladan satu-satunya bagi seluruh aspek kehidupan, ter- masuk dalam mengelola organisasi. Shiddiq, amanah, fathonah, dan tabligh pun telah kita kenal sejak kecil. Mengelola organisasi kemasjidan merupakan sebuah kesempatan untuk mengaktualisasikan keteladanan itu. Tantangan pemenuhan nafkah, melancar- kan karir, dan sekaligus melaksanakan amanah mengelola organisasi kemasjidan jelas memerlukan energi yang amat besar. Perjuangan Rasulullah SAW menjadi oasis yang menawarkan kesejukan dan kedamaian.

  1. KESIMPULAN

Telah dibahas sepintas tentang leadership oleh seorang yang awam mengenai topik ini. Karena sepintas sifatnya maka jelas bahwa bahasan di sini belum tuntas. Masih tersedia ruang yang amat luas untuk memperkaya. Meskipun demikian, tulisan ini menyediakan sejumlah pustaka yang dapat dijadikan langkah awal bagi para pem- inat serius yang ingin mendalami topik yang sangat menarik ini. Manfaat kajian lebih lanjut mengenai topik ini sangatlah jelas mengingat semakin menjamur tumbuh- nya organisasi nirlaba yang dapat dikelompokan sebagai noble organization. Terlebih lagi jika pendalaman itu mengacu kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW namun dengan menggunakan pisau metodologi leadership science. Memadukan an- tara metodologi modern, sebagai pisau analisis, untuk membedah hikmah yang masih tersembunyi dalam kekayaan khazanah Islam mungkin akan menghasilkan pelita yang dapat menerangi perjalanan peradaban manusia yang nampaknya mulai memasuki relung-relung kegelapan. Bisa jadi ini disebabkan karena pemimpin tidak berbekal dengan kepemimpinan yang tepat dan memadai. Allah SWT jualah yang Maha Tahu.

  1. DAFTAR PUSTAKA
  1. Louis W. Fry, Toward a theory of spiritual leadership, The Leadership Quaterly 14 (2003) 693-727.
  2. Louis W. Fry, Steve Vitucci, Marie Cedillo, Spiritual leadership and army transformation: Theory, measurement, and establishing a baseline, The Leadership Quarterly 16 (2005) 835-862.
  3. Hatcher, M., Transformational dan Spiritual Leadership, Journal of Holistic Nursing 9(1) (1991)

pp. 65-80.

  1. Tobroni, The Spiritual Leadership, Edisi Kedua, UMM Press, Februari 2010.
  2. Jessica E. Dinh, Robert G. Lord, William L. Gardner, Jeremy D. Meuser, Robert C. Liden, Jinyu Hu, Leadership theory and research in the new millenium: Current theoretical trends and changing perspectives, The Leadership Quarterly 25 (2014), 36-62.
  3. George B. Graen and Mary Uhl-Bien, Relationship-based approach to leadership: Development of leader-member exchange (LMX) theory of leadership over 25 years: Applying a multi-level multi-domain perspective, The Leadership Quarterly 6(2) (1995), 219-247.
  4. Gardner, W. L., Lowe, K. B., Moss, T. W., Mahoney, K. T., & Cogliser, C. C. Scholarly leadership of the study of leadership: A review of The Leadership Quarterly’s second decade, 2000–2009.

The Leadership Quarterly, 21 (2010), 922–958.

  1. Lord, R. G., & Dinh, J. E. Aggregation processes and levels of analysis as organizing structures for leadership theory. In D. V. Day, & J. Antonakis (Eds.), The nature of leadership (pp. 29–65) (2nd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications Inc.
  2. Christian J. Nelson, Barry Rosenfeld, William Breitbart, Michele Galieta, Spirituality, Religion, and Depression in Terminally Ill, Psychosomatics 43 (2002), 213-220.
  3. Marvin O. Delgado-Guay, David Hui, Henrique A. Parsons, Steven Thorney, and Eduardo Bruera, Spirituality, Religiosity, and Spiritual Pain in Advanced Cancer Patients, Journal of Pain and Symptom Management 41 (2011), 968-994.
  4. Margaret Benefiel, Louis W. Fry and David Geigle, Spirituality and Religion in the Workplace: History, Theory, and Research, Psychology of Religion and Spirituality 6 (2014), 175-187.

Table 1: Three Domain Approaches to Leadership of Graen and Uhl-Bien [6]

ProblemsLeader-basedRelationship-basedFollower-based
What is leadersip?Appropriate be-havior of the person in leader roleTrust, respect, andmutual obligation that generates influence between partiesAbility and moti-vation to manage one’s own perfor- mance
What behav-iors constitute leadership?Establishing andcommunicating vision; inspiring, instilling prideBuilding strongrelationship with followers;  mu- tual learning and accomodationEmpowering,coaching, facili- tating, giving up control
AdvantagesLeader as rallyingpoint for organiza- tion; common un- derstanding of mis- sion and values; can initiate whole- sale changeAccomodates dif-fering needs of subordinates; can elicit superior work from different types of peopleMakes the most offol- lower capabili- ties; frees up lead- ers for other re- sponsibilities
DisadvantagesHighly depen-dent on leader; problems if leader changes or is pursuing inappro- priate visionTime-consuming;relies on long- term relationship between    spe- cific leaders and membersHighly dependenton fol- lower initia- tive and ability
When appropriateFundamentalchange; charis- matic leader in place; limiteddiversity among followersContinuous     im-provement team- work; substantial diversity        andstability among followers; Network buildingHighly capable andtask committed followers
Where most effec-tiveStructured tasks;strong leaderposition power;member accep- tance of leaderSituation favor-ability for leader between two extremesUnstructuredtasks; weak po- sition power; member nonaccep- tance of leader

Table 2: Qualities of spiritual leadership from Fry [1]

VisionAltruistic LoveHope/Faith
Broad appeal to key stake-holdersForgivenessEndurance
Defines the destinationand journeyKindnessPerseverance
Reflects high ideasIntegrityDo what it takes
Encourages hope/faithEmpathy/compassionStretch goals
Establishes a standard ofexcellenceHonesty, Patience,Courage, Trust/loyalty, HumilityExpectation of reward
]]>